h1

Selamat Datang Dunia yang Sempurna

3 November 2009

Berapa lama dan seberapa sering kita dikelilingi oleh orang-orang yang mengeluhkan ketidaksempurnaan dunia tempatnya hidup? Persepsi kita dibentuk, dibesarkan oleh informasi yang disuapkan ke dalam pikiran, dan apabila pikiran menerimanya, maka demikianlah kemudian bentuk persepsi kita. Sebagaimana pernyataan pembuka di atas, kita membiasakan diri hidup dalam kurungan pengap menggerahkan, kurungan persepsi yang menyatakan dunia beserta isinya ini tidak sempurna. “Tak ada manusia yang sempurna, hanya Tuhan yang sempurna,” katanya sambil memasang wajah alim berlagak telah berjumpa Tuhan yang sempurna itu. Sekarang, marilah kita urai kekusutan persepsi ini.

Kalau kita ingin mencari sesuatu yang sempurna, maka syarat mutlaknya adalah kita harus paham apa itu “kesempurnaan”. Sebab, bila kita ketemu dengan kertas karton dan dengan bahan itu kita membuat sebentuk gelas untuk alat minum air, maka cepat atau lambat pastilah air itu merembes ke luar gelas kertas itu. “Wah, gelas ini tak sempurna,” keluh kita kemudian. Perumpamaan ini hanya untuk memudahkan membersihkan kembali persepsi kita yang terlanjur jorok dan berdebu oleh pendapat-pendapat yang kita jejalkan ke pikiran dan kita sangka pendapat ini memiliki kebenaran mutlak. Bahwa kertas karton bukanlah sesuatu yang dibuat untuk menampung air, jadi wajar ia tak memiliki kesanggupan menampung air. Jadi, bukan barangnya yang tak sempurna, tetapi persepsi kitalah yang tak sempurna.

Dunia di sekitar kita, bahkan badan kita, bahkan juga kentut kita adalah sesuatu yang sempurna tanpa kesangsian sedikit pun. Segala keberadaan ini, mulai yang mampu kita lihat, dengar, rasa dan seterusnya adalah kesempurnaan yang mutlak. Karena kesempurnaannya itulah manusia bisa sakit dan mati, sebab bila tidak, mungkin bumi ini telah dipenuhi beragam bentuk makhluk, saking penuhnya bumi oleh makhluk hidup yang tak bisa mati, bahkan untuk bernafas saja tak mampu.

Demikian juga kesempurnaan matahari terbit pagi hari kemudian tenggelam setelah beberapa jam. Angin berhembus lembut semilir atau lain waktu bertiup kencang menjadi tofan badai yang ganas menghancurkan. Adakah cacat cela padanya? Sedikit pun tidak. Segala sesuatu di alam ini, baik yang nyata maupun tak nyata, yang diketahui manusia maupun yang belum, maka semua itu telah didesain dengan sangat sempurna oleh yang membuat. Lantas, mengapa orang-orang yang sok rendah hati mengatakan “tak ada makhluk yang sempurna?” Itu hanya disebabkan karena mereka mengurangi bobot kesempurnaan pikirannya. Karena, bila kita memasangkan kaca mata hitam di mata kita, maka semua objek dengan warna apa pun akan kelihatan hitam. Lantas, apakah benar objek itu berubah menjadi hitam, tidak bukan? Bila kita tak mengerti apa itu kesempurnaan, kemudian bagaimana mungkin kita dapat membedakan antara yang sempurna dengan yang tidak sempurna. Tahukah kita di mana letak ketidaksempurnaan itu? Semuanya berawal dari cara menilai, cara menyimpulkan, dan semuanya itu adalah alam persepsi, alam pikiran. Karena pikiran tidak sempurna mengakibatkan banyak objek di alam semesta ini tidak sempurna. Karena itu, bila ingin menemukan kesempurnaan itu, meyakini semuanya ini sempurna, maka tak ada jalan lain selain berjuang untuk menyempurnakan pikiran itu sendiri. Lalu, mengapa pikiran tak sempurna? Sebenarnya bukan juga tidak sempurna, tetapi segala fenomena adalah proses dan proses bukanlah sesuatu yang menetap, tetapi senantiasa terus berubah. Dengan demikian bagaimana mungkin kita menilai sebuah proses yang lagi mengalir. Untuk ini memang dibutuhkan transit cara pandang dan persepsi, dari alam pikir yang memiliki pola berubah ke alam kesadaran yang memiliki pola menetap, karena di sana adalah pengetahuan sejati. Dan berada dalam cara pandang seperti inilah yang berusaha diperjuangkan orang-orang spiritual. Dengan berada pada gelombang kesadaran ini, maka semuanya nampak sederhana dan alami apa adanya. Semuanya sempurna, tak ada yang harus dikecewakan atau dibanggakan, tak ada yang harus dipuji atau dihinakan, tak ada kesempurnaan maupun ketidaksempurnaan. Lalu apakah nama keadaan persepsi seperti itu? Ya, carilah dan silakan beri nama sendiri-sendiri bila sudah mengalaminya.

N. Putrawan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: