h1

Militansi Hindu dan Upaya Mendobrak “Status Quo”

3 November 2009

Dibandingkan umat lain, militansi di kalangan umat Hindu mungkin termasuk yang paling lemah. Saya punya banyak pengamatan dalam masalah ini. Desa adat, maupun tokoh-tokoh Hindu tidak ada yang “berani” menanamkan sikap militan atau fanatik. Mereka paling berkoar-koar soal toleransi dan ajaran-ajaran universal lainnya, seperti Trikaya Parisuda, Tri Hita Karana, Tattwamasi, selain menggelar berbagai upacara.

Akibatnya, jika terjadi kawin campur atau perkawinan dengan latar belakang beda agama, umumnya lebih banyak umat Hindu yang mengalah, beralih ke agama pasangannya. Lebih-lebih bila dalam kawin campur itu, pihak perempuan datang dari keluarga Hindu, wah gampang sekali melepasnya. Tidak demikian halnya di pihak agama lain. Perempuan atau laki-laki bagi mereka sama saja. Harus dipertahankan semampu dan sekuat mungkin. Semangat untuk mendapatkan tambahan umat sangat tinggi bagi mereka. Sedangkan bagi kebanyakan keluarga Hindu, masalah agama dianggap boleh-boleh saja.

Masalah perkawinan di Bali memang menggunakan sistem patrilinial (mengacu pada kaum laki-laki). Sayangnya sistem itu diturunkan dari pengertian yang salah. Orang Bali beranggapan, setiap kelahiran individu baru dianggap diturunkan dari pihak laki-laki. Kasarnya dari pihak sperma saja. Itulah sebabnya, kedudukan kaum laki-laki di Bali lebih istimewa. Klan atau soroh didasarkan atas garis keturunan laki-laki. Karena itu, jikalau suatu keluarga belum bisa menghasilkan anak laki-laki, maka kegelisahan menghinggapi mereka. Bahkan sering dipakai alasan bagi si suami untuk kawin lagi. Inilah salah satu keistimewaan yang dimiliki kaum laki-laki di Bali, namun di pihak lain menistakan kaum perempuan. Meskipun saya laki-laki, saya tidak setuju dengan konsep “purusa” yang berlaku selama ini.

Kembali ke soal kawin-mawin. Acapkali bila keluarga Hindu kawin campuran dan kemudian melepas keyakinannya karena memeluk agama baru, maka setelah beberapa waktu, banyak perubahan besar yang sering membuat kita tercengang. Sebelum kawin, mereka selalu memuja Brahman (Tuhan), para dewa, dan leluhur. Tetapi setelah memeluk agama baru, jangankan memuja leluhur, orang tuanya sendiri serta kerabat keluarganya yang lain kadang-kadang dituduh sebagai kuam kafir. Sebagai orang yang tidak beriman serta penyembah berhala.

Itu artinya, betapa dalamnya orang Hindu tersebut tertanam dalam keyakinannya yang baru. Sampai-sampai orang yang melahirkan dirinya sendiri tertuduh sebagai kaum kafir.  Ada kalanya, bila keluarga mereka bermasalah atau cerai, ia tak sudi lagi berbalik ke Hindu. Karena ia telah memiliki iman yang lebih baik. Selain alasan itu, mereka yang kawin campur dan kemudian menemukan masalah takut kembali ke Hindu karena berbagai alasan, antara lain terkait adat. Sebab, jika orang yang telah kawin dengan umat lain, dianggap sebagai orang yang terbuang. Sehingga proses masuknya kembali akan dikenai serangkaian upacara yang jlimet dan mungkin denda yang tak tertanggungkan.

Sebaliknya, bila dalam kawin campur itu ada masalah, pasangan yang berasal dari non-Hindu secepat kilat bisa kembali ke asal. Sebab di dalam bawah sadar otak mereka masih tersimpan memori, bahwa agama Hindu adalah agama bumi dan identik dengan menyembah berhala. Bukan agama wahyu. Memori itu sulit dihapuskan karena sedari kecil mereka dididik demikian. Dan mereka “lari” ke asal dengan mengajak serta anak-anaknya. Jika sudah demikian, anak-anak yang tadinya beragama Hindu, ikut “disebrangkan” menjadi penganut non-Hindu. Contoh yang dikemukan ini tidak hanya terjadi pada masyakat biasa, tapi juga merambah pada keluarga-keluarga Hindu yang memegang jabatan tinggi di negeri ini. Sering kita miris manakala tahu pejabat tinggi negara ada dua kepercayaan dalam keluarganya.

Nah, ketidakimbangan itu memberi tahu bahwa kefanatikan umat Hindu amat lemah. Mau dibuat bagaimana lagi kalau dalam persembahyangan bersama jarang diisi dengan dharmawacana. Kalaupun ada dharmawacana, lebih banyak menekankan ajaran moral. Sangat jarang memberikan kotbah-kotbah perbandingan antaragama.

Implikasi dari lemahnya fanatisme melebar ke mana-mana. Coba perhatikan umat Islam, misalnya. Meskipun Presiden dan Wakil Presiden RI selalu beragama Islam, demikian juga menterinya dominan muslim, tapi mereka tidak menggantungkan sepenuhnya kepada pemerintah dalam masalah pendidikan generasi mudanya. Mereka dirikan sekolah-sekolah swasta yang berbasis agama. Nah di Hindu, sudah keadaan terbalik, masalah pendidikan sepenuhnya diserahkan kepada pemerintah. Ketika pengangkatan guru-guru agama Hindu sangat pincang, umat Hindu hanya bisa gigit jari. Akibatnya, generasi muda Hindu tidak terdidik atas dasar Weda, tapi proses pembelajarannya diserahkan kepada masyarakat (adat). Lingkaran setan ini akan semakin memperlemah posisi Hindu. Bagaiaman akan menumbuhkan generasi yang militan dan fanatik, membentuk masyarakat Hindu yang melek tatwa saja mungkin tak kesampaian.

Akibatnya, praktek keagamaan Hindu menjadi beragam dan tidak memiliki acuan jelas. Jika keadaan ini terus dibiarkan, maka sampai kapan pun tidak akan bisa menumbuhkan kefanatikan dan militansi dalam Hindu. Hindu akan terlindas zaman jika tak ada keberanian mendobrak status quo.

Made Mustika

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: