h1

Membatasi Keinginan

3 November 2009

Manusia tidak dapat menyadari kenyataan bahwa ia memiliki kemampuan timbang-menimbang yang membedakannya dari hewan. Bila manusia secara fisik berwujud manusia, tetapi tidak memiliki sifat-sifat kemanusiaan.Dari waktu ke waktu ia hanya mengejar harta yang berupa uang, kekuasaan, kedudukan, kesenangan, dan kenikmatan jasmani.Ia mengira bahwa uang dan kekayaan adalah segala-galanya. Akan tetapi, uang dan kekayaan juga merupakan pangkal penyebab kehancuran.Kita menyadari bahwa sejumlah uang diperlukan untuk kebutuhan hidup, tetapi manusia harus dapat menempuh kehidupan yang bermakna dengan jumlah uang yang secukupnya.

Apakah makna membatasi keinginan? Manusia diperdaya oleh keinginannya yang tak terbatas.Ia hidup dalam alam mimpi dan angan-angan yang tidak karuan.Oleh karenanya, sangat penting menjaga keinginan-keinginan agar selalu terkendali. Daripada menghabur-hamburkan uang hanya untuk kepentingan diri sendiri, sebaiknya uang dikeluarkan untuk membantu orang-orang yang tidak mampu. Inilah makna membatasi keinginan yang sebenarnya.Telah dikatakan beraneka keinginan yang dimiliki oleh manusia akan membawa malapetaka. Keinginan merupakan penjara. Manusia dapat dibebaskan dari penjara tersebut hanya dengan membatasi keinginan-keinginannya.Bagaimana kita dapat mengurangi keinginan-keinginan?Mungkin beberapa cara ini dapat dilakukan.

Pertama, membatasi diri dalam masalah makan. Makanlah hanya yang perlu dimakan. Jangan mengambil lebih dari yang dapat kita makanj dan jangan sampai membuang makanan.Kelebihan makanan yang kita miliki dapat disumbangkan kepada orang-orang yang kekurangan makanan.Para leluhur mengatakan bahwa makanan adalah Tuhan, hidup adalah Tuhan, dan manusia lahir dan dibesarkan dari makanan. Makanan merupakan sumber utama hidup, tubuh, pikiran, dan watak manusia. Pikiran merupakan cerminan makanan yang dimakan oleh seseorang. Penyebab kecenderungan jahat dalam pikiran manusia adalah jenis makanan yang dimakannya.Kualitas makanan yang dimakan harus murni, bersih, suci, dan sattvik.

Kedua, membatasi diri dengan uang. Kita mengetahui dan menganggap uang dan kekayaan sebagai Dewi Lakhsmi.Oleh karenanya jangan sekali-kali menyalahgunakan uang.Kalau kita tidak bisa membatasi diri, kita hanya akan menjadi budak sifat-sifat buruk, memiliki gagasan buruk, dan akan melakukan kebiasaan-kebiasaan buruk.

Ketiga, memanfaatkan waktu.Waktu harus digunakan dengan sebaik-baiknya. Waktu harus disucikan karena segala sesuatu dalam ciptaan ini tergantung pada waktu.Waktu adalah pengejawantahan Tuhan. Penyebab utama kelahiran dan kematian manusia adalah waktu.Waktu adalah faktor utama dalam pertumbuhan manusia. Apabila kita membuang-buang waktu, sama artinya kita menyia-nyiakan hidup sendiri.Waktu merupakan bagian hidup manusia yang sangat penting.Jangan merendahkan waktu dalam percakapan yang tidak perlu (gossip, fitnah).

Keempat, membatasi diri dalam hal energi. Jangan membuang-buang energi fisik, mental, dan spiritual. Bentuknya seperti; melihat hal-hal yang buruk, mendengarkan hal-hal yang buruk, berbicara yang buruk, memikirkan gagasan yang buruk, dan melakukan perbuatan yang buruk, semuanya itu hanya membuang-buang energi. Perhatikan syair di bawah ini.

Jangan melihat yang buruk, lihatlah hal yang baik
Jangan mendengarkan yang buruk, dengarkan hal yang baik
Jangan bicara yang buruk,bicarakan hal yang baik
Jangan memikirkan yang buruk, pikirkan hal yang baik
Jangan melakukan yang buruk, lakukan hal yang baik
Inilah jalan menuju Tuhan

Jalan menuju Tuhan adalah tidak melihat, mendengar, berbicara, berpikir, atau melakukan apa pun yang buruk. Jika manusia tidak mengikuti jalan ini, itu artinya ia membuang-buang tenaganya. Karena membuang-buang tenaganya, manusia kehilangan daya ingat, kecerdasan, kemampuan timbang-menimbang, dan rasa keadilan.

Jadi, bagaimana ia dapat menempuh jalan yang benar? Misalnya, bila kita menyetel radio untuk mendengarkan program tertentu, entah suaranya dikeraskan atau dikecilkan, selama radio menyala, aliran listrik tetap terpakai.Pikiran kita sama seperti radio itu.Entah kita berbicara dengan orang lain atau hanya berpikir dalam hati, kita tetap menghabiskan energi.

Pikiran bekerja sepanjang waktu.Karena selalu bekerja, kita banyak menghabiskan energi.Daripada menghabiskan kekuatan, energi,atau tenaga dalam pemborosan mental lebih baik waktu digunakan untuk memikirkan gagasan-gagasan yang baik.Program pembatasan keinginan telah diajukan agar manusia tidak menyia-nyiakan apa saja dalam hal makan, uang, waktu, atau tenaga. Jangan membuang waktu dan menundanya, mari kita awali dan lakukan.

Anak Agung Gede Raka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: