h1

Makna Cane Pada Saat Paruman

3 November 2009

Sering kita melihat, namun tidak tahu atau malah tidak mau tahu apa makna dari benda itu. Hal itulah yang kita alami terhadap keberadaan apa yang disebut “Cane”. Mungkin sebagian besar dari kita belum memahami apa cane itu, kenapa memakai cane dan apa saja bahan-bahan untuk membuat cane. Khususnya bagi yang belum memahami baiklah secara ringkas akan diuraikan sebagai di bawah ini.

Jika diartikan sesuai dengan yang tercantum  pada kamus bahasa Bali karangan Sri Reshi Anandakusuma terbitan CV. Kayumas Agung tahun 1986, cane artinya sirih yang dihidangkan di dalam rapat. Namun, di dalam kenyataannya  tidaklah demikian, karena ternyata yang dimaksud cane tidak hanya sirih, walaupun unsur berupa sirih juga ada, yaitu berupa lekesan (sirih digulung terikat dengan benang). Secara lengkapnya  cara pembuatan cane, antara lain sebagai berikut: Sebagai alasnya dipakai sebuah dulang yang kecil dihiasi dengan seseriyokan atau jaro dari janur berkeliling. Di tengah-tengah dulang ditancapkan batang  pisang yang panjangnya disesuaikan dengan tinggi rendah yang dikehendaki. Di sekitarnya diisi perlengkapan lainnya, seperti bija, air cendana,  burat wangi (lenga wangi), masing-masing dialasi dengan  empat buah takir (mangkuk kecil). Selain itu terdapat pula kojong 4 buah yang berisi  tembakau, pinang dan lekesan, yaitu dua lembar daun sirih dilengkapi dengan gambir dan kapur, kemudian digulung serta diikat dengan benang. Di samping itu pula atau ditambahkan dengan rokok 4 batang dan korek api. Dan untuk rokok malahan ada yang  melengkapinya dengan jumlah bungkus  disesuaikan dengan banyaknya peserta rapat yang hadir agar masing-masing memperoleh minimal sebatang setiap orangnya. Kemudian bunganya diatur melingkar ditancap pada batang pisang secara teratur berkeliling, sehingga menjadi indah dan paling atas diisi cili serta hiasan-hiasan lainnya.

Ada pun kegunaan cane ini adalah untuk melengkapi sesajen-sesajen yang agak besar, terutama pada waktu upacara melasti dijunjung mendahului pratima atau daksina.  Namun dalam kehidupan sehari-hari  dan terikat dengan acara paruman atau rapat-rapat di lembaga adat, keberadaan cane ini betul-betul diperlukan. Cane ini dipergunakan pada rapat paruman (pesangkepan) paripurna oleh lembaga-lembaga adat. Cane ini ditempatkan pada suatu tempat yang khusus atau di tengah-tengah rapat.

Ada pun tujuan memakai cane adalah untuk memohon agar pertemuan atau rapat berjalan, mendapatkan hasil yang diharapkan dan segala keputusan yang diambil dapat ditaati dengan penuh kesadaran. Di samping itu penggunaan cane pada pertemuan-pertemuan (rapat) juga bertujuan untuk mengingatkan, bahwa apa pun yang telah dicapai oleh seseorang adalah atas anugerah Ida Hyang Widhi Wasa melalui manifestasiNya.

Pemanfaatan cane sesuai dengan desa kala patra dan desa mawa cara, yaitu ada yang setelah rapat selesai baru cane itu di-lebar dan ada juga yang sebelum acara rapat dimulai yang pemanfaatannya setelah rapat selesai yakni, cane akan di-lebar, yaitu dengan jalan membagi-bagikan air cendana, bija, bunga serta perlengkapan lainnya termasuk diperciki tirta wangsuhpada Ida Bhatara. Pemakaian bija atau bunga adalah sebagai simbul telah mendapatkan anugerah dalam hal ini kiranya anugerah yang dimaksud adalah berupa hasil (keputusan-keputusan rapat). Jadi pemanfaatan cane itu sebelum atau setelah rapat, maknanya sama saja, yakni memohon rapat menghasilkan sesuatu yang baik.

Jero Mangku Putu Oka Swadiana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: