h1

Mahashivaratri: Bebas Dosa Setelah Tak Sengaja Menyembah Siva

3 November 2009

Pada tanggal 24 Januari 2008 hari Sabtu lalu, umat Hindu di Bali merayakan malam Shivaratri, sedangkan di India umat Hindu merayakan malam Mahashivaratri tanggal 23 Februari 2008 yang bertepatan dengan hari Senin. Walaupun ada perbedaan, tapi makna yang terkandung di dalamnya serupa dan sama. Shivaratri vrata (brata Shivaratri atau puasa pada malam Shivaratri) telah dilakukan sejak ribuan tahun yang lalu di India. Menurut keyakinan, barang siapa yang melaksanakan Shivaratri vrata, bahkan walau tidak disengaja atau tanpa disadari akan mendapatkan perlindungan, kesejahteraan dan kebahagiaan tertinggi (anandam). Dalam purana disebutkan bahwa para dewa pun memuja Shiva pada malam itu.

Di Bali dikenal kisah mengenai seorang pemburu yang bernama Lubdhaka, sedang­kan di India bernama Gurudruha. Kisahnya sebagai berikut: Dahulu kala ada seorang pemburu yang sangat kejam dan bengis, tidak memiliki rasa belas kasihan terhadap manusia apalagi binatang. Mata pencahariannya sehari-hari di samping berburu adalah mencuri dan merampok. Dia tidak pernah memikirkan apakah pekerjaan yang dia lakukan itu bertentangan dengan Dharma atau tidak, apalagi dia sama sekali buta huruf dan tidak mau mendengarkan dharma wacana atau hal-hal yang berhubungan dengan masalah spiritual. Pada suatu senja, Gurudruha pergi berburu binatang ke tengah hutan untuk makan malam keluarganya.

Sesampainya dia di tengah hutan, cukup lama dia menunggu binatang buruannya, namun tak seekor binatang pun yang lewat di depannya. Dia mulai was-was dan berpikir. “Bisa-bisa aku akan pulang dengan tangan hampa malam ini.”

Menjelang malam rusa-rusa di hutan mulai merasa kehausan dan biasa minum di sungai dekat Gurudruha bersembunyi. Ketika sang rusa lewat didekatnya, Gurudruha sangat berhati-hati mengambil busur dan memasang anak panahnya. Tanpa disengaja ujung busurnya mengenai cabang pohon, sehingga beberapa daun pohon itu gugur, jatuh ke bawah. Begitu juga ujung busur yang lain mengenai pot airnya sehingga beberapa tetes air tumpah ke bawah. Kebetulan di bawah pohon itu ada sebuah tempat pemujaan Shiva Lingga. Daun Bilva dan air pot itu jatuhnya tepat di atas Shiva Lingga. Dengan tanpa disengaja Gurudruha telah melakukan ritual pemujaan terhadap Shiva. Mengetahui dirinya sedang dibidik oleh seorang pemburu, seekor rusa betina menyerah dan berkata, “Tuan, tolong ijinkanlah saya pulang terlebih dahulu untuk memberitahukan kepada suamiku, setelah itu saya akan kembali menyerahkan diri. Entah bagaimana perasaan Gurudruha saat itu, dia percaya bahwa rusa itu tidak akan membohonginya dan membiarkan rusa itu pergi. Beberapa menit kemudian datang lagi seekor rusa betina yang lain ke dekatnya. Seperti sebelumnya dia kembali memasang busur dan anak panahnya. Demikian juga busurnya kembali mengenai cabang pohon dan pot airnya sehingga jatuh mengenai Shiva Lingga di bawahnya. Sudah dua kali dia melakukan ritual pemujaan kepada Shiva. Rusa yang kedua itu juga melakukan hal yang sama dengan rusa yang pertama dan berkata, “Tolong bersabar sebentar, saya akan memberitahukan suami dan anak-anakku terlebih dahulu. Tidak lama saya akan kembali, setelah itu tuan bebas membunuhku.” Kali ini pun Gurudruha menaruh kepercayaan yang sama seperti pada rusa pertama. Sesuai dengan janjinya, kedua rusa itu datang menepatinya, bahkan tidak hanya berdua, tetapi juga bersama suami dan anak-anak mereka.

Sesampai di hadapan Gurudruha, suami rusa-rusa itu berkata,”0h pemburu , kami telah datang. Bunuhlah saya terlebih dahulu. Saya telah siap untuk mati, sesuai dengan janji yang diucapkan oleh kedua istriku.” Kedua istri rusa itu juga berkata serempak,”Kami juga sudah siap mati. Tuan bebas membantai kami untuk memuaskan rasa lapar keluarga tuan.” Mendengar pernyataan kedua orang tua mereka, anak-anak rusa itu menangis. “Tidak, tidak. Jangan bunuh mereka, jangan bunuh orang tua kami! Jika salah satu harus mati, biarkan kami mati terlebih dahulu! Bagaimana kami bisa hidup tanpa mereka?” Mendengar pernyataan, ayah, ibu dan anak-anak rusa itu, baru kali ini hati Gurudruha merasa berbelas kasihan, ingat bahwa dia juga memiliki keluarga yang juga memerlukan kasih sayang. Dia salut kepada kedua rusa betina yang bersaudara itu hidup rukun walaupun mempunyai satu suami yang sama. Dia lalu turun dari atas pohon Bilva. Ketika dia turun, cabang pohon yang dia pegang beberapa daunnya rontok dan jatuh ke bawah, begitu juga pot airnya bergoyang sehingga airnya tumpah ke bawah mengenai Shiva Lingga di bawahnya. Tanpa disengaja sudah tiga kali dia melakukan ritual pemujaan kepada Shiva. Setelah kakinya mengijak tanah, tanpa disadari karakter Gurudruha berubah total 180 derajat. Hatinya telah berubah dipenuhi dengan Prema (cinta kasih) kepada semua makhluk hidup. Dan dia membebaskan semua rusa itu dari kematian yang merupakan hak hidupnya yang hakiki.
Merasa puas dengan apa yang dilakukan oleh Gurudruha, Dewa Shiva memberikan DarshanNya. Dewa Shiwa berkata kepada Gurudruha,”Gurudruha, engkau telah melakukan Shivaratri vrata (tidak makan, mininum dan tidur) semalaman dan kasih sayang yang tulus telah kau berikan terhadap keluarga msa itu, Aku merasa puas maka semua dosa yang telah kau lakukan sudah Ku ampuni!”  Setelah mendapatkan penampakan dari Dewa Shiva, Gurudruha merubah semua perilakunya yang buruk dan mulai hidup suci.

Ida Ayu Pudjawati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: