h1

Mabuk Membawa Manusia Menuju Neraka

3 November 2009

Tahun baru biasanya saat yang sangat ditunggu-tunggu dengan antusias oleh banyak kalangan, khususnya oleh kalangan anak muda. Sebagian besar anak muda tidak mau melewatkan malam pergantian tahun baru begitu saja. Mereka sangat bersemangat dan mempersiapkan segala sesuatunya jauh hari dengan matang, seperti membuat panggung kecil (stand musik), penganan, makanan, dan minuman termasuk jenis minuman beralkohol. Dengan semua itu mereka berkumpul, bergembira di pinggir jalan.

Warna dan irama musik umumnya dipakai musik rock, dangdut, remix, disco. Satu-dua memang ada yang mengisi saat malam tahun baru dengan tirtayatra,  mendengarkan irama musik yang bernuansa spiritual, memberi vibrasi keteduhan ke dalam diri dan menenangkan pikiran yang selalu bergejolak. Tetapi jumlah anak muda yang demikian hanya sedikit. Kebanyakan anak muda merayakannya di pinggir-pinggir jalan disertai dengan musik menghentakkan jiwa yang bisa memacu jantung berdetak lebih cepat serta menjadikan  indra-indra terseret, terfokus perhatiannya kepada semua objek yang berada di luar dirinya. Merayakan tahun baru dengan menari sambil minum tuak.

Gaya seperti ini sangat memberikan peluang terhadap indria untuk menikmati kemerdekaan dan kedaulatan atas diri mereka yang semakin mengikatkan ketergantungannya terhadap duniawi. Meskipun duniawi itu penting, tetapi agama menyarankan supaya membatasi dan pada akhirnya melepaskan sedikit demi sedikit keterikatan kita pada dunia materi. Beberapa di antaranya ada yang teler, mabuk tak sadarkan diri. Yang menjadi kekhawatiran adalah jika mereka tidak memiliki sedikit kebijaksaanaan untuk menyikapi kondisi seperti itu. Maka bisa jadi moment tersebut akan membuatnya ketagihan, ingin mengulangi kembali meskipun bukan di hari-hari yang khusus seperti perayaan tahun baru.

Tahun baru mestinya memberikan rekomendasi serta dimaknai untuk memberi arah terhadap perilaku kita ke depan. Jika menyambut tahun baru dengan pola di atas,  maka seolah-olah memberikan peluang sebebas-bebasnya bagi pemenuhan kama. Sebagaimana diketahui bersama bahwa zaman sekarang ini orang cendrung lebih banyak menjalani hidup dengan pola hedonisme. Hal ini menjadikan jiwa makin terikat dengan hal-hal yang memuaskan kama. Di dalam Bhagavadgita XVI 21 dengan jelas disuratkan, bahwa ada tiga pintu gerbang raksasa yang akan menjerumuskan manusia menuju kesengsaraan dan lembah neraka, yaitu kama, krodha, dan lobha. Yang namanya kama ini tidak akan pernah bisa dipuaskan, semakin dipenuhi akan semakin besar tuntutannya, bagaikan api yang disirami dengan bensin, maka bukannya mengecil api itu, tetapi menjadi membesar dan berkobar. Pada diri manusia tiga hal tersebut ada dan tidak bisa dihancurkan, tetapi bisa ditundukkan, dikendalikan, atau dibatasi dengan kebijaksanaan (Celing on the saire). Yang namanya  kama semakin disediakan fasilitas, kondisi yang membuatnya hidup, maka dia akan semakin kuat mengikat jiwa. Perilaku seperti itu jika tidak segera dilakukan introsperksi akan menjadi kebiasaan. Dari kebiasaan lama-lama akan terpola  dan ahirnya mengkristal menjadikan karakter. Maka hilanglah sebagian rasa malunya bahkan tidak segan-segan menyetop setiap orang lewat untuk dimintai uang guna beli arak atau tuak.

Jika seorang perempuan sampai terpengaruh alkohol dan suka mabuk, maka yaang bersangkutan tak akan malu menjual diri. Kepada orang orang semacam itu jika diberikan petuah agama dia akan mencibir. ”Yang saya perlukan bukan tutur tapi uang, minum,” kata mereka, bahkan disampaiakan dengan keras seperti orang berteriak.

Mengharapkan anak ini menjadi patuh mendengarkan nasehat di zaman sekarang, apalagi bijaksana dalam menyikapi hidup, maka sama halnya dengan berharap mendapatkan es pada bara api. Kasih sayang yang diajarkan Tuhan lewat kitab suci terasa semakin menjauh. Mungkin masih ada peluang memperbaikinya tetapi butuh waktu yang sangat lama dan energi ekstra untuk mengobatinya. Peringai anak-anak muda pada masa sekarang sering menyesakkan dada orangtua mereka.

Sebenarnya generasi muda merupakan aset yang tak ternilai harganya bagi para orangtua, keluarga, bangsa dan negara. Masa muda adalah masa-masa yang amat krusial untuk mengembangkan berbagai mental dan potensi mereka. Dalam Saracamuscaya sloka 27 disebutkan, bahwa masa muda bagaikan pucuk ilalang yang memiliki tingkat ketajaman maksimal, sehingga pergunakanlah masa-masa ini dengan aktivitas menuntut ilmu pengetahuan, memperoleh artha yang tentu didasarkan pada Dharma, sehingga waktu yang dimiliki benar-benar berguna. Energi puncak tidak terbuang percuma serta kesempatan meniti menjadi manusia tidak sia-sia belaka.

Manusia sering berilusi, bahwa waktu masih panjang untuk memperbaiki diri. Karena itu mereka berpikir, hari esok masih cukup waktu belajar agama. Siapa yang tahu keadaan esok hari? Bahkan sedetik yang akan datang pun belum tentu menjadi milik kita. Oleh karena itu maknailah waktu yang ada dengan sebaik-baiknya. Hidup yang dianugrahkan oleh Tuhan haruslah diarahkan kepada kebaikan.

Luh Asli

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: