h1

Desa Adat: SAATNYA SEISI BENTENG “MENYERANG”

3 November 2009

Mari kita bicarakan kekinian kita, mari periksa nasib kita kini, jika candi-candi batu yang kokoh di masa lampau runtuh oleh proses waktu dan perlu direstorasi ulang, maka demikian pula lembaga sosial kemasyarakatan yang bernama desa adat. Apakah yang tak bisa rusak di semesta ini? Jadi mari kita perbaiki kerusakan itu supaya bisa digunakan kembali.

Ingatkah kita dengan sistem perta-hanan stelsel yang diterapkan pasukan infanteri dalam perang darat (wilayah)? Sistem ini mirip dengan pembentukan sistem sel, di mana dibentuk sel-sel sebagai basis pertahanan dari serangan musuh. Dibentuknya perta-hanan sistem sel ini bersumber dari ide, supaya tidak terkonsentrasinya kekuatan di satu titik, tetapi menyebar di berbagai wilayah dengan membentuk kekuatan yang lebih solid. Jika satu sel berhasil dicaplok musuh, maka sel-sel lain masih bisa melanjutkan perlawanan dan pertahanan, sehingga tidak semua induk pasukan menanggung kekalahan dalam peperangan tunggal.

Ngomong-ngomong soal strategi pe­rang, desa adat yang awalnya dibentuk atas prinsip rekayasa ketertiban sosial dengan memformalkan sekte Hindu dalam desa adat, maka belakangan lembaga ini pun berkembang fungsinya sebagai pertahanan sosial bagi ideologi Hindu. Mulanya adalah keputusan politik Raja Udayana abad X untuk memformalkan sekte Tri Murti supaya dipuja secara bersama-sama di wilayah desa pakraman, atau kurang lebih fusi sekte baru yang bersumber dari banyak sekte sebelumnya ini merupakan ciptaan Raja Udayana atas kesepakatan rembugan di Pura Samuantiga. Tapi raja-lah yang memformalkan, memerintahkan kepada rakyatnya supaya kesepakatan ini dilaksanakan. Berikutnya dengan dipatuhinya kesepakatan ini oleh seluruh rakyat Bali, maka berarti Raja Udayana semakin dapat menguasai wilayahnya termasuk rakyatnya.

Seiring waktu bergulir, fungsi desa pakraman sebagai peredam konflik antar sekte kemudian juga memiliki fungsi pemersatu. Akibat dipersatukan oleh Kahyangan Tiga yang menjadi tempat suci bersama warga desa, disatukan oleh kebutuhan akan setra atau kuburan, disatukan oleh keaktifan bersama dalam mengurus ritual sehari-hari (Panca Yadnya). Akibat relasi antarwarga yang demikian intensif ini, desa adat akhirnya menjelma menjadi sosok pemersatu dan pembangun Hindu yang kokoh. Desa adat juga berhasil membentuk warganya menjadi fanatik dalam beragama Hindu (terutama fanatik ritual). Satu prestasi yang tak ditemui pada struktur masyarakat Hindu Majapahit.

Sebagaimana konsep awalnya, lembaga ini dibentuk atas spirit keagamaan pada masyarakat homogen dengan beragama Hindu. Homogen pula dalam struktur ekonomi pedesaan yang agraris. Karena penduduknya terdiri atas masyarakat yang homogen Hindu, maka desa adat awalnya tidaklah semata diha-rapkan menjadi sistem sosial yang solid dan kompak, tetapi memiliki idealisme mewujudkan suatu devine society (masyarakat ketuhanan) berdasarkan Weda. Mpu Kuturan sebenarnya hanya melanjutkan proses evolusi spiritual masyarakat Hindu Bali yang terutama dipengaruhi oleh zaman Purana. Karena untuk konsumsi massal, desa adat adalah wahana yang ideal belajar Weda berdasarkan teknik srotacharya atau teknik meniru. Karena itulah di Bali jarang ditemui orang belajar filsafat agama secara for-mal, tetapi lebih menekankan aspek keteladanan dari orang-orang suci (sila). Pembelajaran kerohanian dengan cara meniru (srotacharya) hanya bisa dilakukan di wilayah yang mengembangkan kebudayaan Weda. Karena itu pula di Bali banyak dijumpai ritual-ritual Hindu, seni bernafaskan Hindu dan sebagainya. Sebab di India Govindacharya telah mengembangkan teknik pembelajaran  Weda supaya enak untuk dinikmati, maka demikian pula di Bali leluhur kita mengembangkan teknik supaya dapat mempraktikkan filosofi Hindu secara enjoy. Di antaranya dengan melakukan banyak ritual yang ditunjang seni; makanan yang enak, banten yang seni, pelinggih yang seni, kidung yang seni, seni pertunjukan wayang, seni tari, seni busana dan seterusnya.

Nah, lain dulu lain sekarang. Karena teknik srotachartya, yaitu pola meniru keteladanan orang-orang suci kini dianggap sebagai perilaku tak terpelajar. Ia mendapat stigma “mulo keto” dan identik dengan kedunguan. Kini orang-orang lebih asyik menyibukkan dirinya dengan pembelajaran filsafat, mengadakan pengkritisan di sana-sini, sesuatu yang bagus, asal belajarnya paripurna. Tapi yang membuat repot adalah, baru belajar seperempat jalan, tapi sudah merasa jadi guru dan mulai menghakimi masyarakat.

Sekarang abad 21, desa adat yang homogen hampir-hampir sulit bertahan sebagaimana konsep awalnya. Dari sisi palemahan, sudah banyak orang non Hindu memiliki rumah dan tanah di wilayah desa. Demikian juga pawongan-nya sudah diisi pula nyama selam nyama Kristen, nyama Eropa dan lain-lain. Termasuk parahyangan-nya yang juga berdiri mesjid, gereja dan vihara. Di tengah heteregonisasi sifat desa adat, sebagian tokoh menilai desa adat masih sanggup sebagai benteng Hindu, sehingga muncul ide untuk melestarikannya, bahkan termasuk membiarkan bentuknya demikian sebagaimana di masa lalu. Termasuk mengkritik krematorium yang konon katanya akan menggerus tradisi manyamabraya dan menghilangkan budaya Bali.

“Tanpa disadari, kita sebenarnya sudah mengadopsi perubahan di banyak sisi dalam praktik beragama kita, lantas   mengapa takut menyelaraskan keberadaan desa adat supaya sesuai dengan realitas zaman modern,” papar Drs. IB. Putu Adriana kepada Raditya pada Kamis, 16 Januari 2009 silam di Kantor Yayasan Pangajaran, JL. Turi, Denpasar. Ketua Yayasan Pangajaran ini lantas memberi contoh kecil, bahwa sekarang bila orang ngaben di Denpasar dan sekitarnya, maka bade-nya tidak lagi digotong masyarakat, tapi ditaruh di atas roda kereta yang didesain sedemikian rupa, dan masyarakat tinggal mendorongnya saja. Demikian juga tentang krematorium. Jika dulu orang membakar mayat dengan kayu api, kemudian berkembang menggunakan kompor, terus menggunakan krematorium. Semua itu dalam pandangannya adalah hal lumrah dan justru menjadikan desa adat bisa terus eksis. “Asalkan secara prinsip tidak ada pelanggaran, maka desa adat memang perlu memacu dirinya untuk mengevolusikan diri supaya bisa fleksibel sesuai kebutuhan zaman,” tambahnya. Prinsip yang dimaksudkannya adalah menegakkan Tri Hita Karana, sehingga tiga penyebab kebahagiaan bagi warga desa adat memang betul-betul terbukti nyata di lapangan, bukan wacana semata.

Masih dalam pandangan IB. Putu Adriana, apa yang menjadi polemik di masyarakat tentang keberadaan desa pakraman, seperti kasus adat kesepekang, perebutan batas desa adat, pemekaran desa adat yang kisruh, maka semuanya itu soal teknis, tak satu pun perdebatan soal prinsip. Memang menurutnya, kede-wasaan desa adat banyak ditentukan SDM pemimpin setempat. Keributan yang muncul sering diakibatkan karena kurangnya mampu membedakan antara fungsi sebagai prajuru adat dan fungsi pribadi. Di sinilah yang menimbulkan krodit, padahal masalahnya sangat sederhana. Misal, kalau ada acara ngayah di pura selama 7 hari, bukankah bisa diterapkan ngayah sistem ship, supaya pegawai negeri atau yang bekerja di perusahan swasta bisa ngayah sore hari selepas jam kerja. Dengan demikian kehidupan bermasyarakat jalan, karir warga desa pun tetap jalan.

Dengan sifat dunia sekarang yang jauh lebih terbuka dibandingkan zaman Raja Udayana dulu, maka kini desa adat tak bisa lagi dipandang sebagai benteng pertahanan ideologi keagamaan. Desa adat bukanlah pula diciptakan untuk meniru pola masyarakat Badui di Jawa Barat yang tertutup dari dunia luar dan eksklusif. Sekarang ini justru saatnya desa adat mendorong warganya untuk “ke luar benteng” untuk melakukan “serangan” ke dunia luar. Memberi akses seluas-luasnya supaya anak-anak desa adat bisa berkarir di level pemerintahan, swasta, menjadi pekerja kapal pesiar di luar negeri, menjadi pekerja spa di negeri lautan Pacific dan seterusnya. Sebab bila anggota desa sudah makmur, maka lembaga sosial desa adat pun akan semakin maju pula dan Hindu bisa kian kokoh. Sebaliknya, bila desa adat hanya dilestarikan untuk mengurusi tradisi-tradisi masa lalu, maka desa adat yang dianggap benteng itu akan berubah menjadi pembunuh.

N. Putrawan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: