h1

Berbagai Jalan Menuju Tuhan

3 November 2009

Manusia terbentuk juga oleh unsur Spiritual (niskala). Kebahagiaan di Alam Spiritual akan dapat dicapai apabila umat mampu mendekatkan diri kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Jalan untuk mendekatkan diri kehadapan Beliau di dalam usaha pendakian alam spiritual, dalam ajaran Hindu disebut dengan Catur Marga. Semua jalan tersebut bisa mendekatkan diri kehadapan-NYA, dengan meningkatkan daya spiritual diri sendiri. Alam spiritual akan semakin dalam dimasuki apabila umat semakin mendekatkan diri kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Ada pun tujuan akhirnya adalah membentuk jati diri sehingga mampu memberikan peran kepada Bhuwana Alit dan Bhuwana Agung dengan baik. Umat sebaiknya menjadi diri sendiri yang sejati. Yang berarti pula harus sudah dapat membuat panduan untuk diri sendiri, di mana panduan ini akan memberikan jalan tentang bagaimana mengatur badan (Bhuwana Alit) dan alam (Bhuwana Agung).

Pada masing-masing tahapan daripada Catur Marga ini harus dilalui untuk mendapatkan kebahagiaan di alam spiritual, bukan berarti tahap yang satu dengan yang lain lebih baik atau lebih buruk. Akan tetapi tahapan yang ada adalah suatu proses untuk mendapatkan jati diri umat, yang merupakan tahapan untuk menjadi diri sendiri. Jadi tahapan tersebut sesuai dengan kemampuan pada saat umat tersebut menerima ajaran agama.

Tahapan untuk mendekatkan diri kehadapan Beliau di dalam usaha pendakian alam spiritual tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

(1) Bhakti Marga, jalan mendekatkan diri dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dengan cara bhakti ke hadapan Beliau. Bhakti dapat juga diartikan dengan meyakini atau mempercayai keberadaan Beliau. Dengan cara bhakti akan kebenaran sejati tersebut umat akan dekat dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Sedangkan ajaran tentang hal ini di sebut Bakti Yoga. Percaya dengan keberadaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang Maha Agung, Maha Besar, Maha Tahu segala-galanya. Semua kejadian di alam ini atas kehendak (ciptaan Beliau), termasuk apa yang terjadi di dalam diri umat sendiri. Dengan memahami begitu besarnya kekuasaan dan kebesaran Beliau, umat pun selayaknya percaya akan kebenaran dari ajaran-ajaran yang telah Beliau wahyukan kepada umat manusia melalui Agama Hindu. Karena ajaran yang telah Beliau wahyukan akan membimbing umat ke arah yang lebih sempurna seperti ke arah kesempurnaan Beliau. Karma Marga, yaitu jalan mendekatkan diri dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dengan melaksanakan perintah yang diajarkan oleh Beliau melalui ajaran Agama Hindu. Setelah umat bhakti akan kebenaran sejati tersebut sebaiknya tidak berhenti sampai di sana saja, sebaiknya umat melakukan dan mencoba ajaran kebenaran tersebut. Ajaran dengan cara melakukan dan melatih ajaran kebenaran dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa ini disebut dengan Karma Yoga.

(2) Jnana Marga, yaitu jalan mendekatkan diri dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dengan belajar dari buku-buku tentang kebenaran yang ada di dalam ajaran Agama Hindu dan belajar dari apa yang telah dilakukan (latihan perbuatan baik) dalam penerapan ajaran agama. Setelah mencoba ajaran-ajaran tersebut, selanjutnya belajar dari apa yang sudah dilakukan. Banyak hal yang dapat dipelajari setelah melakukan apa yang disarankan ajaran agama (pengalaman). Pelajari lagi dan cari lagi ajaran-ajaran Beliau yang lebih banyak lagi, melalui buku-buku suci dan orang-orang suci tentang kebenaran. Ajaran dengan cara yang dilakukan seperti ini disebut Jnana Yoga. Jadi ada tiga buah sumber dari ilmu pengetahuan yang merupakan jalan untuk mendekatkan diri dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, yaitu, buku-buku suci, Guru, dan pengalaman hidup.

(3) Raja Marga, adalah jalan mendekatkan diri dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dengan menjadi diri sendiri yang sejati berdasarkan ajaran Agama Hindu. Setelah mengetahui keberadaan dirinya sendiri maka umat sebaiknya menjadi diri sendiri yang sejati. Sedangkan ajaran yang menggunakan cara ini di sebut Raja Yoga. Yang berarti pula harus sudah dapat membuat panduan untuk diri sendiri, di mana panduan ini akan memberikan jalan tentang bagaimana mengatur badan (Bhuwana Alit) dan alam sekitar (Bhuwana Agung) agar pencapaian Moksa menjadi kenyataan. Membuat panduan ini penting dilakukan oleh karena umat dilahirkan tanpa panduan sehingga diperlukan membuat panduan sendiri supaya mendapatkan jalan yang lebih baik menuju kebahagiaan dalam kehidupan.

Semua jalan tersebut di atas bisa dilaksanakan untuk mencapai kebahagiaan di alam spiritual, tidak pernah Agama Hindu menyatakan bahwa suatu bentuk yoga yang satu lebih tinggi dari yang lain, karena yoga tersebut menyesuaikan dengan kemampuan dan keberadaan umat. Hal ini berarti bahwa semua tingkatan kemampuan spiritual yang dimiliki oleh masing-masing umat mendapatkan ruang di dalam Agama Hindu. Dan setiap umat Hindu mendapatkan hak yang sama untuk mendapatkan peningkatan kemampuan spiritual.

Kemampuan spiritual tidak berbanding lurus dengan umur, karena terkadang umur sudah tua, akan tetapi kemampuan spiritualnya masih kurang. Akan tetapi semua tingkatan kemampuan spiritual tersebut mampu mendapatkan kebahagiaan sesuai dengan kemampuannya. Kalau dapat diibaratkan di masyarakat, tidak semua anggota masyarakat yang umurnya sudah tua harus berpendidikan sarjana, terkadang ada yang masih tamat SD, SMP atau SMA. Dan bukan berarti masyarakat yang tamatan SD tidak mendapatkan kebahagiaan, mereka juga akan mendapatkan kebahagiaan sesuai dengan kemampuannya. Dan kwalitas kebahagiannya pun sesuai dengan kemampuan spiritualnya. Seperti halnya ada orang yang bahagia sebatas dapat makan dan minum, ada pula orang yang bahagia apabila sudah dapat kebutuhan skunder dan atau kebutuhan tersier, ada pula orang bahagia apabila dapat membahagiakan keluarga setelah dapat membahagiakan diri sendiri, begitu pula ada orang bahagia apabila dapat membahagiakan diri sendiri, membahagiakan keluarga dan keturunan, dan dapat memberikan kebahagiaan kepada orang lain. Yang diharapkan adalah mendapatkan kebahagiaan yang sempurna, yaitu Moksa.

Dari jalan untuk mendekatkan diri kehadapan Beliau (Catur Marga) maka akan didapatkan beberapa katagori tingkatan kemampuan spiritual sebagai tolok ukur keberhasilan di dalam usaha pendakian alam spiritual tersebut. Ada pun tingkatan kemampuan spiritual tersebut dapat dibagi menjadi 4(empat) yang dapat dijelaskan sebagai berikut:

(1) Tingkatan kemampuan spiritual pada tahap pendidikan atau pengenalan ajaran kebenaran. Pada tingkat ini masih menggunakan sarana, akan tetapi sarana yang dipergunakan dapat dipilah menjadi: sarana sederhana (air, api, bunga).
Sarana Banten/ bantuan pengingat(simbul): banten alit (intinya saja) untuk upacara yang utama. Banten madya untuk upacara yang madya. Banten agung untuk upacara yang nista.

Mengenal keberadaan Beliau dan ajaran kebenarannya dengan melalui pendidikan dengan menggunakan bantuan simbul-simbul tentang Beliau. Pada tingkat ini, umat mulai mengenal ajaran kebenaran, akan tetapi belum mampu memberikan kesimpulan secara menyeluruh daripada ajaran kebenaran tersebut. Umat pada tingkatan ini akan bangga dengan pengetahuannya tersebut, tapi belum mampu mengambil kesimpulan dari keseluruhan ajaran tersebut.

(2) Tingkatan kemampuan spiritual pada tahap penghayatan ajaran kebenaran. Ini ditempuh melalui dua cara, yaitu Catur Dharma ke-1 (Dharma Githa). Catur Dharma ke-2 (Dharma Yatra). Menghayati keberadaan Beliau dan ajaran kebenarannya dengan jalan melakukan perjalanan suci dan melantunkan lagu-lagu tentang kebesaran dan keagungan Beliau. Pada tingkat ini, umat sudah mampu menguraikan dan menyimpulkan ajaran kebenaran yang sudah pernah dipelajari, dan mampu merasakan manfaat daripada ajaran kebenaran tersebut.

(3) Tingkatan kemampuan spiritual pada tahap pemahaman ajaran kebenaran. Ini ditempuh dengan dua cara, Catur Dharma ke-3 (Dharma Wacana) dan Catur Dharma ke-4 (Dharma Tula). Memahami keberadaan Beliau dan ajaran kebenaranNya dengan jalan melakukan ceramah dan mendiskusikannya. Pada tingkat ini, umat sudah mampu menganalisa ajaran-ajaran kebenaran untuk dapat diimplementasikan di dalam kehidupan dengan cara membuat panduan hidup untuk diri sendiri (menyesuaikan dengan desa, kala, dan patra), dan mampu memberikan arahan terhadap panduan hidup orang sekitar. Akan tetapi pada tingkat ini belum mampu melaksanakan panduan yang dibuat tersebut.

(4) Tingkatan kemampuan spiritual pada tahap pengamalan ajaran kebenaran.
Mengamalkan perintah Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan ajaran kebenaran dengan jalan melakukan perhatian, menjaga dan merawat anugrah yang sudah diberikan (Bhuwana Alit dan Bhuwana Agung), agar senantiasa berguna dan tetap lestari bagi kehidupan. Pada tingkat ini, umat sudah mampu melaksanakan panduan hidup yang dibuat untuk mendapatkan kebahagiaan, yang berarti sudah mampu menerapkan Tri Kaya Parisuda di dalam kehidupannya.


Darmawan, Bajera-Tabanan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: