h1

Bagaimana Mpu Kuturan Menata Bali

3 November 2009

Mpu Kuturan, seorang arsitek Desa Pakraman, memiliki kapabilitas  sebagai seorang rohaniawan juga ahli tata masyarakat, karena Mpu Kuturan adalah juga Raja dari Girah (Nateng Girah). Beliau sangat berhasil dalam menata kehidupan masyarakat Bali sejak kehadirannya bersama saudaranya yang lain (Catur Sanak)  atas permintaan Raja Udayana Warmadewa pada abad XI.

Masalah Bali waktu itu adalah ada enam sekte yang saling menganggap paling baik, sehingga menimbulkan konflik horizontal. Melalui pertemuan tiga faham (aliran), Budha Mahayana, faham Ciwa  dan wakil 6 sekte dari oarng Bali Mula, di Samuan Tiga Gianyar akhirnya seluruh peserta bisa diadopsi dan bisa disatukan sehingga Bali menjadi aman.

Setelah Majapahit runtuh pada abad XV karena masuknya agama Islam, dan berakhir pula era ”Dalem”, ini telah memunculkan kerajaan-kerajaan kecil di sembilan tempat di Bali. Perkembangan ”Puri” sebagai kelanjutan dari kepemimpinan masa lalu juga menjadikan Bali menjadi berbeda, namun tradisi masa lalu masih tetap dilakukan walaupun kemudian adat ini menjadi komoditas kekuasaan karena sering dimasukkan adat-adat yang tidak sejalan dengan ajaran Hindu. Seperti kasus-kasus, kesekepang, asu-pundung, anglakahi karanghulu, kawin dengan keris, dan lain-lain. Sampai akhirnya masuk ke fase penjajahan abad XVI, desa pakraman secara praktek tetap dipertahankan. Ada sisi positif dari penjajah yang banyak melarang adat yang tidak sesuai, seperti ”Pati Gni”, walaupun juga ada  hal negatif yang diperkuat dan dilestarikan demi politik kolonial, seperti sistim Kasta yang diwarisi sampai sekarang.

Apa relevansinya dengan Bali jaman sekarang, apakah di Bali terjadi konflik sekte seperti abad XI? Persisnya memang tidak, tetapi Bali sekarang sedang dihadapkan pada konflik-konflik, seperti  masalah adat, lemahnya solidaritas sesama orang Bali, pemahaman akan ajaran sampradaya dan lain-lain.  Kemudian lemahnya dominasi ekonomi orang Bali, lemahnya kepemimpinan di sektor swasta dan pemerintah, kedatangan para pendatang dari luar Bali yang umumnya sektor informal, seperti  tukang bakso, dan banyak permasalahan lainnya yang menyebabkan orang Bali bisa menjadi tamu di negeri sendiri.

Jika coba dirangkum, maka permasalahan Bali ini dapat kita lihat dari dua sisi, yaitu  vertikal, meliputi pemahaman akan bhakti dan sarana bhakti berupa Pelinggih-Pelinggih. Sisi horizontal, meliputi hubungan sosial masyarakat dengan masyarakat lainnya, dan antara masyarakat dengan lembaga pemerintah, adat, agama. Pelinggih Kemulan Rong Tiga yang diciptakan Mpu Kuturan punya nilai strategis sehingga bisa mempersatukan umat waktu itu dan mempunyai nilai spiritual karena pengejawantahan dari aksara suci Aum, yaitu  Ang (Brahma/Pencipta), Ung (Wisnu/Pemelihara), Mang (Siwa/Pemralina/ Pengembali), jadi Kemulan Rong Tiga ini punya dasar Tattwa. Hasil karya Mpu Kuturan lainnya adalah Meru yang berasal dari Mahameru, di mana tumpangnya selalu ganjil (1-11) yang merupakan simbul Aksara Suci. Seperti Meru Tumpang Tiga simbul Tri Aksara atau Tri Purusa (Siwa, Sadasiwa, Parasiwa). Lama kelamaan Meru itu menjadi dua macam, yaitu sebagai Dewa Pratistha (Stana Dewa) dan Atma Pratistha (Stana Roh Suci/Leluhur) perbedaannya hanya pada sikut (ukurannya) sesuai Astha kosala-Kosali. Seperti halnya Meru, maka Kemulan Rong Tiga ini mulai bergeser bahkan kabur penggunaannya, seperti ada umat yang menikah saat meminang tidak mau bersembahyang di Kemulan Rong Tiga pihak perempuan, padahal di sana pemujaan Tri Murti.

Pada era Danghyang Nirarta pada abad XV muncul Pelinggih baru berupa Padmasana, maka sarana pemujaan umat semakin bertambah. Entah bagaimana dan sejak kapan prosesnya, fakta yang bisa dilihat sekarang adalah di setiap Sanggah, Panti, Mrajan atau Mrajan Agung, banyak sekali dijumpai pelinggih-pelinggih yang sering tidak dimengerti oleh umat pemuja. Untuk aplikasi konsep Mpu Kuturan ini tentu tidak mungkin kita membongkar pura yang sudah ada, tetapi bisa dimulai dari keluarga kecil, karena setiap tahun muncul generasi keluarga baru yang perlu mandiri dan punya Pelinggih sendiri. Di sinilah dimulai hanya memiliki satu Pelinggih saja, yaitu Kemulan Rong Tiga, sehingga umat akan lebih fokus, upakara lebih sedikit sehingga kesempatan untuk masuk ke tataran tattwa bisa lebih banyak. Selanjutnya dana bisa lebih irit sehingga bisa untuk keperluan lain, seperti pendidikan dan kesehatan, bahkan melakukan dana punia.

Sisi horizontal seperti hubungan sosial masyarakat, jaman Mpu Kuturan hanya ada kelompok masyarakat Bali Mula dan Bali Dataran (keturunan dari Jawa). Bali sekarang banyak terdapat kelompok wangsa (soroh/clan), di samping kelompok pendatang. Kelompok wangsa ini pada dasarnya baik, yaitu mempersatukan keluarga, sehingga bisa lebih baik komunikasinya secara horizontal juga secara vertikal (Bhatara Kawitan). Celakanya  adalah ketika yang satu menganggap lebih tinggi dari yang lain. Pola klan yang salah bisa menyebabkan masyarakat Bali kurang ada ikatan emosional yang sama sehingga terkesan kurang bersatu. Warisan sosial masyarakat jaman dulu berupa pelapisan strata masyarakat yang memunculkan adanya Ratu dan Parekan juga akan membatasi munculnya jiwa kewirausahaan (entrepreneur) dan kepemimpinan (Leadership) pada masyarakat yang bermental abdi ini. Jadi kepuasan segelintir masyarakat membawa dampak mental yang kurang baik pada banyak masyarakat.

Sisi horizontal lainnya adalah perubahan masyarakat dari sektor agraris ke sektor industri, seperti industri Pariwisata. Bali yang dominan sektor industri pariwisata justru tidak banyak menikmati hasil dari industri pariwisata ini khususnya di level pemimpin atau pengusaha (wiraswasta) yang kebanyakan hanya tenaga menengah ke bawah. Masalah kemampuan sumber daya manusia bisa jadi alasannya, tetapi dengan kesadaran kemakmuran bagi masyarakat Bali, maka prioritas pendidikan ketrampilan dan kesempatan kepada masyarakat Bali harus diupayakan oleh pemerintah khususnya pemerintah daerah. Jadi  disadari atau tidak, permasalahan Bali ini menjadi salah satu faktor kurang menguntungkan. Kalau antara sesama orang Bali ada dikhotomi, ada kotak-kotak, ada lapis-lapis, maka persatuan itu tidak akan diperoleh. Mungkin saja kelemahan ini sudah dibaca oleh orang luar yang ingin berkiprah di Bali sesuai keinginannya, yang mungkin tidak menguntungkan. Kasus Bom Bali telah terjadi, maka masalah ini bukan isapan jempol belaka.

Itulah fenomena yang bisa dilihat di Bali sekarang ini, bagaimana dengan orang Bali yang merantau apakah ada perubahan sikap mentalnya? Hubungan sosial sesama orang Bali di luar Bali relatif lebih baik, lebih moderat, walaupun masih ada segelintir orang yang membawa peninggalan hubungan sosial berlapis ke luar Bali, tetapi itu tidak ada manfaatnya. Keakraban ini mungkin karena merasa senasib sesama perantau dan  ini adalah hal yang umum secara psikologis. Umumnya mereka menikmati hidup di luar Bali dan sesekali ke Bali menengok keluarga, tidak ubahnya seperti wisata. Ada sebuah keluarga yang tidak bersedia pindah ke Bali ketika ditawari pekerjaan yang lebih baik dengan gaji yang lebih besar dengan keadaannya sekarang. Alasannya dia tidak kuat dengan kehidupan adat di Bali. Di luar Bali dia cukup menyiapkan canang dan buah lalu ke pura bersama keluarga dan mantap bersembahyang. Sehari-hari dengan Gayatri Mantram kadang dilanjutkan dengan ”Japa” memegang Genitri, terasa sangat baik.

Pada hari-hari tertentu belajar mekidung, baik kidung Bali atau kidung setempat dan anak-anak mereka belajar menari dan agama Hindu di pura, jadi suasana yang sederhana, akrab, tanpa menghilangkan kadar kehinduan. Terhadap permasalahan Bali ini, secara umum orang Bali di rantau bukannya tidak peduli dengan keadaan di Bali, tetapi mereka tidak punya kemampuan untuk mengubah cara-cara di Bali yang kurang pas di jaman sekarang ini karena sudah mendarah-daging di masyarakat. Jadi mereka berpendapat biarlah Bali seperti itu, di luar Bali kita beda. Apalagi di luar Bali akan berinteraksi dengan etnis lainnya, seperti  Jawa, Dayak Kaharingan, Batak, Bugis, dan lain-lain yang pasti juga punya adat dan tata-cara sendiri dalam berkomunikasi kepada Sang Pencipta, sehingga perlu format yang lain dalam bersosialisasi. Masalah di luar Bali lebih kepada ”kearifan untuk berinterkasi dengan etnis lainnya dalam satu payung agama Hindu”.

I Nyoman Sukadana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: