h1

Rahasia Karunia Mahashivaratri

29 Oktober 2009

Sivaratri berarti malam Shiva yang terjadi setiap bulan yakni pada malam ke 14 sesudah pumama. Dalam bahasa Sansekerta disebut Caturdasi Kresnapaksa. Malam ini adalah malam yang tergelap (tanpa bulan). Dalam setahun terdapat malam yang paling suci, yaitu Shivaratri pada bulan magha Januari/Februari. Malam ini disebut Mahashivaratri, karena malam itu adalah malam pemujaan kepada Shiva.

Menurut susastra, pada malam yang suci itu Tuhan dalam manifestasinya sebagai Shiva menari dalam tarian kosmik yang disebut tari Thandava dan pada malam itu juga Shiva mengeluarkan linggam. Dalam Shivaratri kalpa disebutkan kisah seorang pemburu bernama Lubdhaka yang pada malam Shivaratri tidak tidur semalam suntuk dan tanpa sengaja menjatuhkan daun bilva di atas Shivalinggam, sehingga menyebabkan dia masuk sorga. Banyak lagi cerita-cerita serupa yang melukiskan kesucian dan keluhuran malam Shivaratri. Dalam kitab Wrehaspati tatwa yang menyebutkan konsep ajaran Shiva tentang atutur (tidak tidur), aturu (tidur) dan papa. Di sana terjadi percakapan antara Dewa Shiva dengan Bhagawan Wrehaspati yang menguraikan, bahwa manusia yang dibelenggu oleh raga atau indrianya dinyatakan sebagai orang yang aturu (tidur) dan manusia yang senantiasa tidur itulah yang disebut papa. Bhagawan Wrehaspati lalu bertanya, “Bagaimana seorang yang papa dapat melepaskan diri dari papa neraka?” Dewa Shiva menjawab, “Yang matutur ikang atma ring jatiniya.” (Artinya kalau seseorang sadar akan jati dirinya bahwa dia adalah Atma bukan badan ini). Hal ini bisa dicapai dengan cara melaksanakan brata yang utama (wara brata), yaitu atanghi (melek) pada saat yang tepat, segala papanya lebur oleh brata yang dilakukannya. Dalam Padma Purana juga disebutkan, bahwa Shivaratri adalah malam peleburan kepapaan (pembenasan manusia dari kepapaan).

Menurut para Guru-guru suci yang dituangkan dalam upanishad; Shivaratri adalah saat yang paling baik bagi mereka yang benar-benar mendambakan Tuhan untuk menyucikan pikiran, melebur kotoran bathin dan untuk memperoleh anugrah Tuhan yang tak ternilai, yakni Atmajnana (pengetahuan) tentang diri sejati (Atman ).

Kenapa pada malam Shiva?, karena bulan sangat berpengaruh pada pikiran manusia. “Chandrama Manaso jaathah.” Bila bulan makin besar, maka pikiran menerima pengaruh yang makin kuat dari bulan. Sehingga sukar dikendalikan. Jika bulan makin kecil pikiran makin terbatas dari pengaruh bulan. Akibatnya pikiran makin gampang dikendalikan.

Demikianlah pada malam Shivaratri, malam yang gelap tanpa bulan hanya 1/14 bagian dari kekuatan bulan mempengaruhi pikiran manusia. Sehingga apabila pada malam itu orang tidak tidur dan melakukan sadhana (praktek spiritual) untuk mengendalikan pikiran, maka besar kemungkinan akan berhasil. Jadi pada malam tersebut dianjurkan tidak tidur semalam suntuk, melakukan meditasi, japa, bhajan dan sebagainya. untuk mengendalikan pikiran dan memusatkannya kepada Tuhan. Dengan cara demikian kita akan memperoleh anugrah Tuhan yang tak ternilai.

Mengapa kita harus memuja Shiva? Karena sesuai dengan manifestasinya, Shiva memiliki atribut khusus yang berhubungan dengan kesucian. Shiva berarti kesucian, kesadaran termurni dan yang menganugrahkan harapan baik, yaitu memiliki segala kejayaan yang berhubungan dengan ketuhanan. Dia merupakan pengejawantahan dari ananda. Dia juga simbol dalam tarian Thandava di mana alam semesta atau cosmos sebagai panggung-Nya. Dia juga dikenal sebagai Shangkara, yaitu yang menganugrahkan anandam (kebahagiaan tertinggi) kepada bhaktanya. Dia juga disebut Ishwara yang merupakan gudang dari segala Eshwarya (harta benda) yang tertinggi, yaitu jnana yang memberikan kedamaian.

Dalam Purana, Shiva digambarkan sedang duduk bermeditasi di puncak gunung Kailasha yang ditutupi salju yang putih bersih. Ini berarti kesucian dan kemurnian. Di leher dan badannya terdapat ular kobra yang membelit sebagai hiasan dan sedang menduduki kulit harimau. Semua ini berati Tuhan menguasai dan menundukkan sifat-sifat jahat dan kebuasan. Dari gulungan rambut- nya memancar keluar air sungai Gangga ini juga merupakan lambang kesucian. Di rambutnya bertengger bulan sabit. Ini berarti Tuhan mengutamakan dan selalu melihat kebaikan, kelembutan, kehalusan budi pekerti yang menjadi sumber kehidupan. Pada leher Shiva terdapat lingkaran hitam (Nilakantha), karena menelan racun hala-hala. Yang mempunyai makna bahwa para pencari kesucian senantiasa harus berusaha menolong (menjauhkan) orang lain dari pengaruh-pengaruh jahat dan membahayakan. Shiva diberi gelar Natharaja (penari cosmic). Hal ini mengandung makna yang dalam, yaitu, sesungguhnya jagat raya ini adalah panggung tarian (sandiwara). Di mana penarinya adalah Tuhan sendiri.

Dalam Upanishad ditekankan, bahwa segala sesuatu pada hakekatnya adalah Atma (manifestasi) dari Atman. Segala yang terjadi karena kehendak Tuhan dan dikendalikan oleh Tuhan. Semua yang ada di alam ini selalu mengalami perubahan, tidak ada yang abadi. Semua makhluk lahir, hidup dan mati, semua benda mula-mula terbentuk kemudian hancur. Semua fenomena muncul kemudian lenyap. Siang berganti malam, suka dukha datang silih berganti. Demikianlah alam semesta ini berubah, bergerak untuk selamanya.

Vibhuti atau abu suci adalah suatu yang amat berharga dalam pengertian spiritual. Dalam cerita Shiva Parvati dikisahkan, Shiva membakar Dewa Kama (keinginan) menjadi setumpuk abu. Ini berarti dalam memuja Tuhan, nafsu (keinginan) harus dihancurkan menjadi abu. Abu ini kita persembahkan kepada Tuhan. Bila nafsu dimusnahkan akan muncul prema (cinta kasih). Vibhuti berarti kemenangan seorang terhadap godaan nafsu atau keinginan. Di samping itu vibhuti juga berarti bentuk akhir dari segala benda. Sebab abu tidak akan bisa berubah lagi menjadi bentuk lain. Vibhuti yang dipakai di dahi maksudnya agar kita berusaha terus melenyapkan nafsu atau keinginan dan memuja Tuhan dengan hati bersih penuh kasih sayang bebas dari keserakahan, kebencian dan sebagainya. Selain itu pada malam Shivaratri dianjurkan untuk melakukan upawasa yang berarti diam atau tinggal dekat Tuhan dengan menjauhkan keinginan-keinginan dan tidak tidur semalaman agar kita selalu sadar (melek) kita harus waspada atau mawas diri jangan sampai terlena oleh kenikmatan dunia yang palsu.

Dalam Chinnakatha diceritakan, bahwa ada seorang pemburu yang bernama Kannappa duduk bersembunyi di atas pohon bilwa menunggu binatang buruan yang akan lewat. Tepat di bawah pohon itu ada Shivalingga. Semalam suntuk karena merasa bosan, Kannappa memetik daun bilva satu persatu dan melemparkannya ke bawah dan jatuh di atas Shivalingga. Di pagi hari ia pulang dengan tangan kosong dan istrinya menyambut dia di rumahnya bahwa ada banyak daging di rumahnya yang entah datang dari mana. Lalu ia mengajak suaminya makan. Waktu Kannappa duduk akan mulai makan, seekor anjing datang menyerobot daging yang dihidangkan. Istrinya mau memukul anjing itu, tetapi Kannappa mencegahnya dan berkata, “Mencelakai binatang hanya demi kepentingan badan yang kotor ini sangat tidak benar.” Istrinya menjadi sangat kaget dan khawatir menyaksikan perubahan yang mendadak pada suaminya. Dia lalu bertanya apa yang terjadi semalam. Kannappa menjelaskan, bahwa dia telah memetik-metik dan melemparkan daun bilva dari atas pohon ke bawah, tanpa disengaja daun itu jatuh di atas Shivalingga yang ada di bawah pohon. Di pagi hari baru dia melihat bahwa ada Shivalingga di sana. Istrinya menyadari dan mengerti bahwa apa yang dikerjakan oleh suaminya itu adalah bentuk ritual pemujaan kepada Shiva. Dan mulai saat itu dia selalu berdoa kepada Shiva agar keinginan suaminya untuk bersatu dengan-Nya tidak dikabulkan. Karena tanpa suaminya apa gunanya ia hidup terus. Doa-doa dan bhaktinya kepada suaminya membahagiakan Dewa Shiva. Akhimya mereka menyatu dengan Dewa Shiva.
Om Namah Shivaya

Ida Ayu Pudjawati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: