h1

Panggungan, Stana Dewa-Dewi

29 Oktober 2009

Sering kita lihat di jaba  sebuah pura,  suatu sanggah didirikan dari bambu  dengan penampang empat bujur sangkar. Panjang sisinya sekitar 1,5 meter, memiliki tiang empat buah kaki dengan panjang 2 meter. Di bagian atasnya dipasang pinggiran keliling, biasanya memakai kembang dan dibuatkan empat buah pintu masing-masing pada sisinya. Inilah yang disebut dengan Sanggah Pengubangan atau sering juga disebut Panggungan. Panggungan ini ditempatkan di halaman jaba nista atau malah ada yang di pinggir jalan, terutama bila sebuah pura yang halamannya sangat sempit.

Agar dapat lebih leluasa, maka Panggungan ini ditempatkan pada jaba sisi suatu pura malah ada yang di pinggir jalan agar mudah untuk melaksanakan paecan-ecan di depan panggung dan mengitari panggung. Panggungan ini dibuat pada waktu upacara Dewa Yadnya yang memiliki kwantitas madia dan utama saja. Contoh upacara Dewa Yadnya madya adalah: piodalan jelih, piodalan membangun ayu dan piodalan makebat daun. Pada prinsipnya, pada piodalan madya adalah upakara yang megah di Sanggah Surya memakai catur sari, catur rebah dan disertai dengan pedudusan alit dan upakara dewa-dewi.

Sedangkan yang termasuk upacara Dewa Yadnya utama adalah, piodalan ngenteg linggih, memungkah, nyusun pedangingan. Sebagai ciri khas upacara Dewa Yadnya tingkatan utama ini memiliki upakara munggah di sanggah surya, seperti, catur rebah, catur nir, catur mukti, banten pepueran, megana pikulan, banten dewa-dewi dan disertai pedudusan agung.

Di luar ketentuan upacara seperti di atas (madya dan utama), pelaksanaan upacara Dewa Yadnya lainnya termasuk upacara nista, dengan demikian tidak perlu mempergunakan  Sanggah Pengubengan atau yang lebih sering disebut dengan Panggungan. Dengan berkembangnya zaman, Panggungan  yang dulunya  dibuat dari bambu, sekarang ada yang sudah memakai bahan dari kayu, sehingga bentuknya lebih bagus.

Mengapa disebut dengan Panggungan atau Sanggah Pengubengan? Karena pada sanggah tersebut merupakan simbol stananya para dewa-dewi sebagai manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam rangka ikut serta menyaksikan upacara sebagai kurban sucinya umat Hindu kehadapan Sang Maha Pencipta. Ada pun empat pintu yang dibuat di setiap sisi sanggah memiliki makna dan sebagai symbol,  bahwa dari sekian banyak dewa dewi, hanya empat dewa sebagai wali dalam menyaksikan dari suatu upacara yang bernama “Sang Hyang Catur Lokapala”. Ada pun Sang Hyang Catur Lokaphala itu terdiri dari Dewa Indra, Dewa Waruna, Dewa Rudra dan Dewa Kwera.

Kelengkapan lainnya dari Panggungan ialah pada setiap sudut-sudutnya, masing-masing dipasangkan sebuah  penjor dengan sarana yang  lengkap dan berisi kain berwarna, yang memiliki makna sebagai berikut. Pada sudut timur laut, sebuah penjor berisi kain putih sebagai lambang penyaksian dari dewa penguasa sorga, yaitu Dewa Indra.

Pada sudut tenggara, sebuah penjor berisi kain merah sebagai lambang penyaksian dari dewa penguasa samudra, yaitu Dewa Waruna.  Pada sudut barat daya, sebuah penjor berisi kain kuning sebagai lambang penyaksian dari dewa penguasa kematian, yaitu Dewa Rudra.  Pada sudut barat laut, sebuah penjor berisi kain hitam sebagai lambang penyaksian dari dewa penguasa kehidupan, yaitu Dewa Kwera.

Jadi dengan demikian, pembuatan Sanggah Pengubengan atau yang lebih sering disebut dengan Panggungan harus disesuaikan dengan besarnya upacara dan kwantitas upakaranya.

Jero Mangku Putu Oka Swadiana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: