h1

Manusia Secara Sekala-Niskala

29 Oktober 2009

Umat Hindu meyakini akan keberadaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang Maha Agung, Maha Besar, Maha Tahu segala-galanya dan Maha Sempurna. Semua yang ada di muka bumi ini, dan kejadian di alam ini atas kehendak Beliau, termasuk apa yang terjadi di dalam diri umat manusia. Beliau Maha Pengasih dan Penyayang kepada ciptaanNya, sehingga Beliau menurunkan wahyu tentang ajaran-ajaran kebenaran kepada umat manusia melalui orang-orang suci yang terangkum di dalam kitab suci Agama Hindu, yaitu kitab suci Weda.

Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang Maha Agung, Maha Pencipta, menciptakan alam dan isinya, seperti binatang, tumbuh-tumbuhan, dan termasuk keberadaan manusia pun adalah ciptaan dari Beliau. Sebagai ciptaan dari Beliau selayaknya manusia berterimakasih karena sudah diberikan kesempatan untuk hidup di dunia ini dan diberikan kesempatan lahir sebagai manusia, sehingga dapat menentukan jalan hidupnya (karena memiliki Tri Premana), tidak seperti ciptaan Beliau yang lainnya, yang hanya memiliki eka premana dan dwi pramana, dan jalan hidupnya masih diatur oleh keberadaan makhluk lain.

Oleh karena itu berikanlah kesempatan untuk diri sendiri sebagai manusia untuk mendapatkan kebahagiaan yang hakiki di dunia ini. Jangan sia-siakan kesempatan hidup yang telah diberikan oleh Beliau, apalagi melakukan kegiatan sia-sia seperti bunuh diri, mabuk-mabukan, oleh karena di dalam kehidupan yang akan datang belum tentu mendapatkan kesempatan yang sama seperti sekarang ini. Dunia yang begitu indah dengan segala keunikannya dan gejala alam yang menakjubkan, bagaikan taman Sorga yang abadi. Rasa terimakasih dan bersyukur yang dapat dilakukan kepada Beliau adalah dengan jalan menjaga semua ciptaan Beliau termasuk manusia itu sendiri agar alam beserta isinya bahagia dan tetap lestari.

Sebagai makhluk ciptaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, manusia hendaknya memahami keberadaannya sebelum dapat berterimakasih kehadapan Beliau, dengan tujuan agar mendapatkan kebahagiaan selama kehidupannya. Di mana manusia terdiri dari unsur materi (sekala) dan spritual (niskala).

Secara materi, keberadaan manusia terdiri dari: Stula Sarira (badan kasar), Suksma Sarira (badan halus). Selanjutnya, Suksma Sarira terdiri dari Ahangkara (logika/pikiran/ego), Budis (kecerdasan), dan Citta (citta). Karana Sarira (atma  bersama karma wasana yang disebut dengan Roh).

Keberadaan manusia tersebut merupakan ciptaan dan anugrah dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Di mana anugrah yang diberikan Beliau harus dirawat keberadaannya, sebagai ucapan terimakasih atas pemberian yang sudah Beliau berikan. Begitu pula semua bagian dari tubuh manusia tersebut sebaiknya mendapatkan perhatian dan disempurnakan keberadaannya agar dapat berfungsi dengan baik, sehingga kebahagiaan yang diinginkan menjadi kenyataan.

Dari beberapa komponen keberadaan manusia, yang merupakan anugrah daripada Ida Sang hyang Widhi Wasa, maka dibutuhkan 7 (tujuh) kecerdasan di dalam usaha perawatannya, yaitu, Kecerdasan Spiritual, Kecerdasan Intelegensia, Kecerdasan Leluhur, Kecerdasan Finansial, Kecerdasan Batas Diri, Kecerdasan Emosi, Kecerdasan Cinta Kasih.

Adapun penjelasan dan hubungannya dapat di lihat dari uraian berikut ini.Badan kasar (Stula Sarira). Yang dimaksud dengan badan kasar adalah menjaga badan kasar ini agar sehat dan aman. Untuk mendapatkan sehat tersebut dengan cara memberikan makanan yang baik dan tepat bagi tubuh (bukan yang banyak atau berlebihan) dan menjaga kebugaran dari tubuh seperti dengan  olah raga. Atau dapat dikatakan melatih bayu. Jadi bayu adalah merupakan kekuatan dari umat manusia yang dapat dicapai apabila kesehatan dan keamanan (kualitas hidup) dapat diwujudkan di dalam diri. Di mana dibutuhkan kecerdasan di dalam usaha mewujudkannya. Kecerdasan yang dimaksud adalah kecerdasan batas diri. Jadi yang dimaksud dengan kecerdasan batas diri adalah suatu kemampuan mengendalikan diri yang dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas hidup (kesehatan dan keamanan). Kemampuan ini dapat di wujudkan dengan menerapkan ajaran Tri Guna.

Badan halus yang berupa budhi. Yang dimaksud dengan budhi adalah kecerdasan emosi. Melatih kecerdasan emosi dapat dikatakan sebagai melatih Sabda. Dengan meningkatkan kecerdasan emosi, maka dapat membuat proses pemecahan masalah menjadi lebih mudah dan dengan harapan tidak menimbulkan masalah baru. Sabda kalau diterjemahkan lagi sebagai bahasa komunikasi, jadi dengan memiliki kemampuan komunikasi yang baik, maka umat manusia akan dapat mengatasi hambatan perjalanan hidupnya menjadi lebih baik. Kemampuan ini dapat di wujudkan dengan menerapkan ajaran Tat Twam Asi.

Badan halus yang berupa Ahangkara (logika/pikiran). Yang dimaksud dengan Ahangkara adalah melatih cara berpikir, atau melatih menggunakan logika dengan meningkatkan ilmu pengetahuan. Atau dapat dikatakan  melatih Idep atau melatih kecerdasan intelegensia. Logika sangat penting peranannya di dalam kehidupan untuk dapat meningkatkan kemampuan memperkirakan kejadian atau peristiwa yang sudah maupun yang akan terjadi, sehingga umat menjadi lebih waspada. Kemampuan ini sering disebut dengan umat yang memiliki mata ke-3(mate-tenger/Bali). Kemampuan ini dapat diwujudkan dengan menerapkan ajaran Tri Kaya Parisuda.

Badan halus yang berupa citta (cita-cita). Yang dimaksud dengan citta adalah tujuan hidup yang ingin dicapai yang dalam hal ini adalah Moksa (kebahagiaan yang sejati). Tanpa adanya tujuan di dalam hidup, maka manusia akan kehilangan arah di dalam bertindak dan yang terjadi hanyalah penderitaan. Maka berbahagialah sebagai umat manusia yang memiliki tujuan di dalam kehidupan. Sebagaimana halnya berbahagia sebagai umat Hindu yang memberikan jalan mencapai tujuan kehidupan di dunia ini yaitu Moksa. Di mana dibutuhkan kecerdasan di dalam usaha mewujudkan tujuan tersebut. Kecerdasan yang dimaksud adalah kecerdasan Leluhur (menurut istilah penulis). Jadi yang dimaksud dengan kecerdasan leluhur adalah suatu kemampuan yang dibutuhkan untuk meningkatkan  kekuatan di dalam usaha memantapkan tujuan dan menguatkan tujuan hidup yang sesuai dengan ajaran agama Hindu. Kemampuan ini dapat di wujudkan dengan menerapkan ajaran Catur Asrama.

Dan Roh (Atma bersama Karma Wasana). Yang dimaksud dengan Roh adalah terbentuknya jati diri yang khas untuk masing-masing umat manusia, yang sangat penting sekali di dalam usaha menentukan sikap hidup. Mengetahui jati diri dapat dilakukan dengan cara mendekatkan dan menghubungkan diri dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa (yoga), atau dengan kata lain yaitu melatih kecerdasan spiritual. Dengan semakin kuatnya jati diri, maka kemampuan untuk menempatkan dan merawat diri sendiri, keluarga dan masyarakat sekitar maupun alam sekitar menjadi lebih mudah dan lebih baik. Dalam artian umat mampu menempatkan yang mana Bhuwana Alit dan Bhuwana Agung dengan segala keperluan, perawatan, dan perhatian yang dibutuhkannya, agar semua dalam keadaan baik, seimbang, dan lestari. Kemampuan ini dapat di wujudkan dengan menerapkan ajaran Catur Marga.

Di samping semua yang disebutkan di atas,  untuk mendapatkan kebahagiaan yang berlanjut  selama kehidupan sampai pada kebahagiaan anak cucu, diperlukan suatu cara untuk mewariskan ilmu pengetahuan yang dimiliki dan alam yang lestari. Dibutuhkan kecerdasan di dalam usaha mewariskan semua kemampuan yang dimiliki tersebut. Kecerdasan tersebut disebut dengan kecerdasan cinta kasih.  Kecerdasan ini didukung dengan menerapkan ajaran Tri Rna. Kecerdasan cinta kasih ini adalah merupakan kemampuan daripada umat manusia untuk melakukan pendekatan dan pengorbanan  yang tulus ikhlas dengan sesama secara berkesinambungan.

Semua kecerdasan tersebut di atas akan menjadi lebih baik dan menjadi lebih sempurna apabila disertai dengan memiliki kemampuan ekonomi yang baik. Ekonomi yang baik dapat dicapai  dengan menerapkan ajaran Catur Warna Di mana kemampuan ekonomi yang baik dapat memfasilitasi dan memberikan ruang yang lebih leluasa untuk mendapatkan kelima kecerdasan yang umat manusia butuhkan. Dibutuhkan kecerdasan di dalam mengelola perekonomian di dalam kehidupan. Kecerdasan tersebut disebut dengan kecerdasan finansial. Kecerdasan finansial yang dimaksud adalah kemampuan mengelola perekonomian di dalam kehidupan sehingga kehidupan menjadi lebih baik. Bukan berarti kemampuan untuk mendapatkan kekayaan sebanyak-banyaknya, akan tetapi kemampuan memanfaatkan dengan baik penghasilan yang dimiliki untuk mendapatkan kebahagiaan. Begitu pula bukan berarti kemampuan ekonomi yang baik dapat membeli semua kecerdasan tersebut, akan tetapi kemampuan ekonomi akan memberikan peluang yang lebih banyak di dalam mendapatkan kecerdasan yang lain. Semua kecerdasan tersebut akan di dapatkan hanya apabila umat manusia bekerja dan melatih diri untuk mendapatkan kecerdasan yang lebih baik dan lebih sempurna (practice make perfect).

Darmawan, Bajera-Tabanan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: