h1

LESTARIKAN WARISAN BUDAYA HINDU BALI

29 Oktober 2009

Sloka Bagawad Gita Bab IV sloka 11, memberikan keleluasan bagi batin kita untuk senantiasa menghubungkan diri kehadirat Ida Sang Hyang Widhi, Kepada Alah, Kepada Yesus, kepada Sang Budha dan kepada sebutan Tuhan Yang Maha Esa lainnya. Secara batin, secara rohani, mungkin kita akan dapat memuja semua nama suci Tuhan, apa pun sebutanNya, apa pun manifestasiNya. Namun secara lahiriah, secara nyata dalam kehidupan sehari-hari kita tidak boleh sembarang masuk tempat ibadah dengan alasan untuk memuja dan memuliakan nama Tuhan Yang Maha Esa, karena kebebasan kita untuk melakukan praktek keagamaan diatur oleh Undang undang. Misalnya untuk memuja Yesus, maka ia yang beragama Kristen akan pergi ke gereja, sementara bagi ia yang memuja sang Budha adalah ia yang beragama Budha, maka ia akan pergi ke wihara. Tentu kita yang menyebut Tuhan dengan sebutan Ida Sang Hyang Widhi, Betare-betari adalah kita yang memeluk agama Hindu (orang Bali), tentu akan pergi ke pura atau pemerajan.

Beranjak dari renungan di atas saya sebagai generasi umat Hindu (Bali) mengamati, bahwa dalam perkembangan pemahaman, pendakian spiritual keagamaan dewasa ini banyak orang mencari solusi dengan cara belajar pendalaman Veda, membanding-bandingkan pengetahuan yang didapat dengan apa yang ia miliki atau ketahui sebelumnya. Dan pada akhirnya banyak menyimpulkan, bahwa agama Hindu Bali adalah agama yang gugon tuwon mule keto. Benarkah demikian?

Apakah dengan berpaling dari agama gugon tuwon dan mule keto sudah pasti merasakan vibrasi kesucian dalam diri kita. Apakah dengan mendapatkan ajaran murni Hindu yang konon menurut sumber suci Veda kita sudah pasti akan mencapai moksa. Sementara orang yang mempraktekkan gugon tuwon mule keto diam ditempat atau tak mungkin memperoleh moksa.

Ataukah kita sebagai orang Bali sudah bosan dengan agama yang bercampur budaya. Merepotkan, pemborosan, memakan waktu, pembunuhan binatang besar-besaran dan lain-lain, sehingga mencari solusi yang lebih praktis lebih hemat dan lebih gampang.

Jika dimintai jawaban atas semua pertanyaan di atas pasti akan memperoleh jawaban yang berbeda-beda. Oleh karena itu, bait sloka Bagawad Gita di atas perlu direnungkan secara  mendalam. Jika kita terlalu bodoh memahami makna dari bait tersebut, maka sembahyang di rumah pun sendiri-sendiri jika dilaksanakan dengan kesungguhan hati pasti Tuhan menerimanya.

Kalau kita terlalu merasa pintar untuk memaknai bait tersebut, maka rasa ego kita akan muncul dengan beramsumsi, bahwa jalan yang saya tempuh adalah jalan yang paling tepat. Muncul anggapan kalau sloka ini membuat agama Hindu jadi terkenal, membuat agama Hindu bias bersaing dan mengatakan suatau ajaran sebagai agen perubahan. Oleh Karena itu saya mengajak kepada seluruh semeton umat Hindu secara intern, khususnya orang Bali yang telah mewariskan budaya keagamaan yang berabad-abad, mari kita benahi budaya-budaya keagamaan yang tidak relevan kita anulir dan yang masih eksis kita pertahankan dan tingkatkan tanpa harus berpaling ke ajaran lain atau mungkin agama lain. Karena saya mengamati, jika kebebasan untuk memaknai bait sloka Bagawad Gita itu tanpa perenungan yang sangat mendalam, maka pada suatu saat nanti budaya keagamaan Hindu Bali akan sirna. Marilah kita jadikan sloka tersebut sebagai toleransi dalam kehidupan beragama yang lebih luas. Dan Lewat kesempatan ini saya menaruh harapan yang besar kepada tokoh-tokoh umat Hindu yang senantiasa mengingatkan akan warisan leluhur yang adiluhung kiranya senantiasa membuka rahasia-rahasia gugon tuwon dan mule keto sehingga agama Hindu yang dipraktekkan oleh orang Bali khususnya adalah agama yang sama dengan agama-agama yang lain. Semoga para leluhur, seperti Empu Kuturan, Rsi Markandya, Danghyang Niratha senatiasa menyertai para pemikir-pemikir yang tetap mengajegkan Agama Hindu berbudaya Bali.

I Gede  Becol

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: