h1

Kualitas di Atas Kuantitas

29 Oktober 2009

Jika sang diri telah dikuasai oleh kekuatan maya, maka yang ada hanyalah keangkuhan, kesombongan, keserakahan, ketamakan, iri hati dan sifat-sifat adharma lainya. Karena mabuk duniawi itulah Duryodhana dengan segala kesombongannya menyampaikan hal di atas kepada pasukannya tentang jumlah kekuatan kedua belah pihak yang saling berhadapan siap tempur di medan perang kuruksetra. Tempat ini juga disebut dengan dharma ksetra karena tempat itu merupakan kawasan suci atau tempat perziarahan rsi-rsi agung termasuk juga para Dewa.

Memang dari sisi kuantitas kedua belah pihak sangat tidak berimbang, di mana pihak Duryodhana (Kaurawa) dengan panglima tertingginya seorang jendral tua yang kaya pengalaman serta sangat dihormati oleh kedua belah pihak dan disegani di ketiga dunia yaitu Bhismadeva. Pasukannya tak terhitung jumlahnya, sedangkan pasukan Pandawa yang dikomandoi oleh jendral muda yang kurang berpengalaman, yaitu Bhima jumlahnya sangatlah terbatas. Inilah kondisi riil di lapangan Kuruksetra, memang secara phisik kekuatan pandawa sangat tidak menguntungkan.

Duryodhana sejak kecil selalu iri hati kepada Bhima, sebab Duryodhana menyadari bahwa dirinya jika harus meninggal dunia hanya Bhima yang dapat membunuhnya, tetapi pada waktu yang sama Duryodhana juga sangat yakin bahwa dirinya akan menang dalam perang ini karena kakek Bhisma ada di pihak mereka. Perang besar (Bharatayuda) tersebut memang terjadi pada akhir zaman Dwapara atau lebih dari lima ribu tahun yang lampau, dan jika kita cermati lebih dalam lagi, bahwa pada akhir Dwaparayuga (menjelang pergantian ke zaman Kali) sebenarnya kekuatan adharma itu sudah jauh lebih besar daripada kekuatan dharma. Ini dapat dibuktikan dengan jumlah pasukan atau orang-orang yang melibatkan diri dalam membela ketidakbenaran yang diperankan oleh Duryodhana (Kaurawa) tidak terhitung jumlahnya, sedangkan kekuatan dharma atau orang-orang yang terlibat di pihak Pandawa sangatlah terbatas sebagaimana disebutkan dalam sloka di awal.

Dan ketika Sri Krsna yang maha bijaksana memberikan dua pilihan pun kepada Duryodhana, apakah menginginkan bantuan pasukan atau bantuan diriNya, maka Duryodhana dengan tegas lebih memilih bantuan pasukan tinimbang  memilih Sri Krsna. Tetapi tidak demikian halnya dengan Arjuna, karena ia lebih memilih Sri Krsna sendiri sebagai penasehat dan pembimbingnya. Kenapa Duryodhana lebih memilih bantuan pasukan atau bala tentara? Karena dia meyakini dengan pasukan yang besar dan panglima yang hebat sekelas Bhisma, apalagi di sana juga ada Guru Drona ahli persenjataan dan sekaligus ahli perang yang tiada lain adalah gurunya para Pandawa dan Kaurawa sendiri, di sana juga ada Krpacharya, ada Adipati Karna dan masih banyak lagi ksatria-ksatria yang hebat lainya. Jika dihitung secara matematis, maka pasti dengan mudah sekali dapat menghancurkan kekuatan Pandawa yang jumlahnya sangat terbatas itu.

Sekali lagi ini semata-mata karena kegelapan rohaninyalah yang memaksa Duryodhana dan juga ayahandanya sendiri, yaitu Maharaja Drstarastra sebagai pemberi retu perang ini tidak pernah menyadari, bahwa Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa Krsna sang sutradara kehidupan ada di pihak Pandawa (lawan).

Kejadian itu memang baru seputar persiapan menjelang perang besar, banyak sekali persiapan-persiapan dan strategi-strategi yang dilakukan oleh kedua belah pihak, tetapi ada satu hal yang barangkali bisa diambil dari peristiwa itu, yakni mengapa Duryodhana memilih bantuan pasukan? Dan mengapa pula Arjuna memilih Sri Krsna? Di sini kita bisa melihat dua pribadi yang berbeda, yang satu adalah pribadi yang sudah tercerahkan dan yang satunya belum, yang satu adalah pribadi yang sudah mampu melihat kebenaran dan yang satunya lagi buta akan kebenaran itu. Yang satu dengan saudara-saudara dan ibunya silih berganti mengalami penderitaan hidup, seperti percobaan pembunuhan para Pandawa dengan cara membakar istana lilin di mana para Pandawa dan Ibu Kunti ada di dalamnya. Rencana jahat Duryodhana yang lain hendak membunuh Bhima dengan cara memasukkan racun ke dalam makanan, kemudian peristiwa penelanjangan Drupadi di depan orang-orang terhormat di balairung Hastinapura. Dan yang paling menderita adalah hukuman pembuangan selama dua belas tahun mereka dan ibu Kunti di hutan belantara yang penuh dengan bahaya seperti para raksasa dan binatang buas, sedangkan pihak kaurawa belum pernah menjalani penderitaan itu malah sebaliknya sebagai sumber dari penderitaan itu.

Tetapi setiap ancaman apa pun yang menimpa keluarga Pandawa, Sri Krsna selalu melindunginya, karena para Pandawa adalah pribadi-pribadi yang saleh, penekun bhakti yang taat, penuh dengan penyerahan diri. Itulah bedanya jika sang diri sudah tercerahkan tidak pernah gentar dalam menghadapi situasi apa pun karena baik senang maupun susah dihadapinya sebagai suatu karunia Tuhan, karena mereka sudah mencapai kesadaran bhakti yang tinggi. Dengan demikian maka pelajaran yang sangat berharga yang dapat kita ambil dari sini adalah kuantitas ternyata bukanlah jaminan menuju kejayaan, artinya kualitas jauh lebih penting dan yang menentukan segalanya.

I Wayan Wisanta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: