h1

Yoga Dan Tenaga Dalam

26 Oktober 2009

Yoga diciptakan oleh Rsi Wyasa dan dalam perkembangannya kemudian disempurnakan dengan lebih sistematis oleh Rsi Patanjali, yang tujuan utamanya adalah sebagai jalan menyatukan bhuwana alit (mikrosmos/manusia) dengan bhuwana agung (makrokosmos/alam semesta-juga berarti Brahman). Dengan fase-fase yang disusun secara teratur ke dalam delapan tingkatan (Astangga Yoga), maka dengan ketekunan yang baik, intisari dalam yoga bisa membimbing manusia menjadi lebih baik atau lebih berkualitas jasmani maupun rohani.

Jika berbicara masalah yoga atau berbicara para Rsi penekun yoga ataupun praktisi yoga pada umumnya, maka tidak terbersit sedikit pun berbicara masalah kekuatan, kewisesan, atau kanuragan, walaupun jika ditelusuri pasti ada bagian yoga yang bisa diarahkan untuk hal itu (kanuragan). Para Rsi yang menyadari tujuan yoga untuk kesehatan jasmani dan rohani atau lebih jauh lagi menyatukan diri menuju kepada Brahman, tidak mau menfaatkan Cakra Api (Agni) atau Cakra Kundalini misalnya dalam aplikasinya, tetapi memilih salah satu Cakra di sekitar dada. Karena konon agar tidak mengarah kepada hal-hal kanuragan, karena seorang Rsi sudah tidak berada di wilayah seperti itu. Dalam prakteknya, yoga kemudian berkembang sesuai dengan kebutuhan manusia, seperti, untuk kesehatan, kecantikan, atau untuk hal yang lebih jauh lagi, seperti Babaji, seorang penekun yoga di India, dikenal tetap awet muda (tetap seperti usia 30 tahunan) walaupun kenyataannya sudah berusia beberapa ratus tahun, hal itu karena menekuni yoga.

Sejalan dengan penyebaran agama Hindu ke Nusantara, maka yoga juga berkembang dengan baik, bahkan karena di Nusantara banyak kerajaan-kerajaan, maka yoga juga menyesuaikan kebutuhan. Maka, di samping ditekuni oleh para Mpu atau rohaniawan jaman itu, banyak pihak yang berikutnya mengembangkan sisi kekuatan (kewisesan) dari manusia melalui yoga. Akhirnya,  Cakra Kundalini menjadi point utamanya. Banyak kemudian muncul penekun kewisesan (kanuragan) atau kesaktian dan terus berkembang sampai jaman republik bahkan sampai sekarang.

Diakui atau tidak, banyaknya perguruan-perguruan tenaga dalam di Indonesia awalnya menggali dari yoga, karena pernapasan sebagai olah utamanya memfokuskan pada daerah perut atau tiga jari di bawah pusar dan itu adalah kundalini yang diibaratkan sebagai naga tidur dan melingkar menyerupai obat nyamuk bakar. Dalam pelatihan atau pengembangan diri, beberapa perguruan mempunyai metode berbeda atau punya ciri khasnya, seperti,  ada Merpati Putih yang mampu memukul benda keras atau memanfaatkan untuk dapat melihat (misalnya menyetir mobil) walau mata tertutup. Ada yang dengan pengembangan tenaga hidrolik, sehingga dapat mementalkan pihak lawan yang menyerang. Perguruan ini, seperti,  Persiteda PATRIOT, Sinar Putih, Sinlamba, Bambu Kuning (di Bali), dan lain-lain. Ada yang lebih menekankan kepada penyaluran hawa murni untuk kesehatan, seperti, Satria Nusantara, Tai-Chi, dan Rei-Ki (lewat penyelarasan energi/ A Tune). Dalam aplikasinya juga sudah lintas agama, sehingga doa atau rapalan, sudah menyesuaikan dengan agama-agama tertentu, walau ada yang sifatnya universal, contoh,  Patriot dan Satria Nusantara. Kekuatan (energinya) pun disebut berbeda, ada yang menyebut Prana, Chi (bahasa China), Ki (bahasa jepang), bahkan secara tradisionil ada menyebut Sedulur Papat kelima pancer di Jawa, Kanda Pat di Bali, dan lain lain. Sekarang ini, siswa-siswa perguruan sudah banyak yang mendirikan perguruan sendiri-sendiri, sehingga banyak muncul nama-nama baru.

Terkait dengan isu akan di-haramkannya yoga oleh MUI bagi umat Muslim, maka untuk perguruan-perguruan yang berbasis Pernapasan ini, tidak akan terpengaruh, karena perguruan ini sudah terbentuk sejak lama dan menyesuaikan dengan masyarakat penggunanya dari berbagai kalangan dan berbagai agama. Yang perlu dikaji ulang adalah yoga yang masih murni dengan Astangga Yoga, walaupun ini juga tidak perlu terlalu dikhawatirkan, karena pertama, yoga ini memang basic-nya untuk umat Hindu dan sudah pasti tidak mengenal haram. Yoga dalam pengertian universal juga sudah banyak dan sudah eksis, dan yang terpenting fatwa tidak secara otomatis akan diikuti oleh umat muslim. Mereka punya patokan-patokan lain juga sesuai dengan kebijaksanaan mereka, seperti rujukan dari para ahli agama atau pemahaman pribadi masing-masing yang dalam Hindu dikenal dengan atmanastuti atau dengan Wiweka. Jadi dengan pengertian ini tidak perlu kita umat Hindu terlalu terburu-buru curiga apalagi was-was dengan isu lahirnya fatwa haram yoga bagi umat muslim, karena di jaman Kali Yuga ini kita memang harus lebih introspeksi diri atau lebih meningkatkan kualitas batin daripada kita koreksi pihak lain yang ujung-ujungnya menimbulkan ketegangan bahkan dapat terjadi perselisihan antarumat beragama. Jadi kembali kepada hakikinya yoga, maka jadikan yoga untuk meningkatkan kualitas diri secara jasmani dan rohani, dengan demikian kita menjadi manusia yang sehat, stabil emosinya, tenang, bijaksana, dan bhakti. Di dalam keseharian kita bersembahyang, misalnya Tri Sandhya sesungguhnya kita sudah melakukan yoga secara terbatas, jika ingin menekuni silahkan datang kepada ahlinya.

Nyoman Sukadana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: