h1

YOGA: “Produk” atau Identitas

26 Oktober 2009

Popularitas yoga di dunia, menembus batas-batas agama, tampaknya karena kelebihan yoga sebagai “produk” dan bukan sebagai indentitas sama sekali. Mengapa Hindu di Bali minus yoga?

Pada akhir dekade 1990-an hingga tahun 2000, saya tinggal di Yogyakarta. Di luar kesibukan kuliah di Program Pascasarjana (S2-UGM), saya bergabung dengan berbagai kegiatan KMHD (Keluarga Mahasiswa Hindu Dharma) UGM.

Di samping itu, saya juga berkenalan dengan berbagai ”aliran” pemikiran mahasiswa Hindu (yang dominan orang Bali), dari yang sangat ”kampungan” hingga yang ”menembus batas”. Di kota ini pun saya berkesempatan ”menikmati” ritual-ritual Hindu Jawa, misalnya pada setiap tilem atau purnama di Bangun Tapan atau pada perayaan Nyepi di Candi Prambanan.

Salah satu kegiatan KHMD UGM, yang rutin saya ikuti, pada setiap Minggu, bertempat di Balairung UGM, adalah yoga. Sungguh barang asing bagi saya. Di SMA, SMP, apalagi di SD, dalam pelajaran agama Hindu, saya tidak mendapat praktik yoga. Mafhum, kan, karena pelajaran Hindu di sekolah telah jadi sangat formal dan hafalan. Tapi ketika saya di Tabanan, saat saya SMA, saya tahu sepintas praktik yoga. Yoga diajarkan di PGAH Saraswati Tabanan (Pendidikan Guru Agama Hindu). Ketika itu, saya dan teman-teman lainnya, melihat yoga di lapangan upacara, sangat aneh. Setiap siswa membawa tikar, sebagai alas. Yang tidak bisa saya pahami: senam bukan, tari balet bukan, pencak silat juga bukan. Lalu apa? Saya tidak tahu.

Siapa sangka, kini saya bertemu kembali yoga, setiap Minggu di Balairung ini. Kali ini saya mengikutinya karena rasa ingin tahu dan ”provokasi” anak-anak KMHD, ”Ikut saja, yoga ini sangat bagus meningkatkan daya tahan tubuh, konsentrasi, serta kecerdasan.” Di antara kami, ada beberapa perempuan berjilbab. Mereka tekun sekali melakukan gerakan-gerakan yoga. Tapi saya tidak tahu, apakah mereka menyebut ”Om” atau sapaan lain. Seingat saya, saya pun tidak dianjurkan mengucapkan ”Om”. Hanya diminta mengikuti gerakan-gerakan tertentu dalam rangka mencapai suatu ”fose”. Setiap gerakan pasti diberitahu apa namanya, dan sangat India.

Beberapa teman saya, mahasiswa Bali, Hindu, anggota KMHD, tak habis rasa herannya, ”Mengapa orang berjilbab ikut yoga?” Saya anggap ini pertanyaan kolot, yang khas model pikiran Hindu Bali. Maklum, pendidikan agama kita terlalu berpusat ke dalam. Mungkin didominasi oleh beban proteksi diri. Tidak ada pelajaran agama yang berisi perbandingan agama. Paling yang diketahui soal hubungan lintas agama hanya bahwa semua agama mengajarkan kebaikan, tujuan agama sama, dan jalan yang digunakan mencapai tujuan tersebut yang tidak sama. Rasanya indah sekali kata-kata itu.

Ketika teman saya bertanya dan sepertinya ada ”keberatan” atas kehadiran beberapa perempuan berjilbab di acara yoga setiap Minggu di Balairung UGM, saya pahami dengan ”bagaimana model pengajaran agama Hindu di sekolah menengah”. Memang melahirkan generasi Hindu yang berpandangan sempit dan teoretis saja. Rasa agamanya tak dibentuk. Lebih-lebih praktiknya.

Yang pasti, saya tidak ”sukses” mengikuti program yoga Minggu. Saya juga mulai menarik diri dari aneka kegiatan KMHD, yang buat saya ketika itu semakin membosankan. Saya tidak tahu apa sebenarnya yoga. Bagaimana posisi yoga di dalam Hindu, khusunya yang ada di Bali. Mengapa tidak memasyarakat? Mengapa tidak seperti tradisi bersusastra? Mengapa tidak seperti tradisi banten?

Saya penganut Hindu ala desa saya, yang khas, yang the other ketimbang Hindu (versi) merek Parisada. Yoga? Kata ini tidak ada di desa kami. Praktiknya pun tentu tidak ada pula. Tapi, kata ”meditasi” pernah masuk desa saya, pada pertengahan 1970-an. Beberapa warga desa ikut TM, termasuk saya. Tapi tidak bertahan sebulan. Dua minggu saja. Bukan karena saya masih ingusan? Saya kira hal ini terjadi karena masuknya cara baru dalam agama ala saya di desa, membutuhkan proses panjang dan belum tentu bisa diterima. TM pun hilang  dari peredaran di desa saya.

Yang menarik buat saya, sehubungan dengan yoga adalah ”Mengapa yoga tidak diwariskan atau tidak dimasyarakatkan?” Katanya yoga sangat mulia, suci, dan penuh manfaat. Menurut pandangan saya, yoga amatlah eksklusif. Hingga kini tetap saja sebagai barang baru (benda asing). Yoga adalah cara beragama Hindu yang tidak ”ala” Bali.

Yoga memang identik dengan Hindu India. Yoga menyebar ke seluruh dunia sebagai sebuah ”produk” dan tentu saja bukan identitas. Karena itulah, banyak orang dari berbagai kalangan, dari luar Hindu di dunia mencoba ”produk” yoga. Rupanya cocok atau pas hingga mereka melakukannya setiap hari hingga bertahun-tahun serta menghayatinya. Sementara itu, orang Hindu sendiri, khususnya yang ada di Bali tidak dipaksa ikut yoga.

Memang akhir-akhir ini, yoga menjadi trend, demikian pula halnya dengan meditasi. Yoga dan meditasi mendapat sambutan dan pengikutnya, bukan karena motivasi beragama tetapi dimotivasi oleh harapan sehat secara jasmani. Cara ini melahirkan pandangan betapa yoga sebagai ”produk” yang bisa dipakai atau digunakan dengan mengikuti instruksi-instruksi tertentu, yang sangat pragmatis. Mengikuti yoga sama sekali bukan untuk menjadi Hindu.

Di tengah masyarakat yang ”sesak”, ”lelah”, ”tertekan” oleh keadaan, yoga memberi harapan besar.  Sebagai ”produk”, dan bukan sebagai identitas agama, yoga pun mudah diterima di berbagai kalangan. Lalu, mengapa ada negara atau pihak-pihak tertentu ”mencurigai” yoga? Hal ini harus dipahami pada konteks politik penyebaran agama dan usaha menjaga kemurnian agama. Agama-agama harus tetap lain dan berbeda dengan agama lainnya. Perbedaan ini harus diperkuat. Harus dibikin menonjol. Perbedaan harus dijadikan kelebihan agama-agama. Agama juga tidak mau ”dikotori” oleh ajaran agama lain. Hal ini artinya, ada ancaman. Karena itu harus ditangkal.

Pelarangan yoga di kalangan umat non-Hindu (yang mengikuti/menjalankan praktik yoga) saya pahami dari konsep ”pemurnian agama”. Bahwa setiap agama harus mempertahankan kemurniannya. Jika hal ini gagal, maka agama tersebut kalah pamor dengan agama ”lawan”-nya.

Pada konteks ini, apakah guru-guru yoga atau komunitas-komunitas yoga membawa misi penghinduan atau Hinduisasi? Jika hal itu ada, lalu apa salahnya? Bukankah agama seperti partai politik? Mencari masa sebanyak-banyaknya? Agama harus disebarkan. Tuhan ”menciptakan” agama dan tugas manusia menyebarkannya.

Jika dilihat dari cara orang non-Hindu menerima yoga sebagai ”produk” dan bukan sebagai identitas beragama, tampaknya pelarangan yoga sebagaimana difatwakan oleh ulama Mesir dan ulama Malaysia, berlebihan. Hal ini adalah salah satu pembatasan penggunaan suatu ”produk” yang dinilai memiliki manfaat. Tanpa manfaat baik atau keunggulan, yoga mustahil bisa diterima. Lagi pula sejarah yoga sangat tua.

Fenomena ini (tanggapan orang non-Hindu terhadap yoga) penting kita cermati bersama. Bukan untuk mempopulerkan yoga. Apakah yoga dilarang atau dianjurkan oleh umat non-Hindu, hal itu bergantung dari pandangan mereka. Bagi kita, yang terutama adalah menjawab pertanyaan-pertanyaan: (1) mengapa Hindu di Bali minus yoga?; (2) mengapa yoga terasa sangat eksklusif?; dan (3) jika yoga bermanfaat baik, mulia, dan suci, bagaimana caranya memodernisasikan Hindu di Bali dengan pendidikan (keterampilan) yoga?

Dilarang atau dianjurkannya yoga oleh orang non-Hindu adalah sepenuhnya urusan mereka. Kita tidak memiliki hak atau rasa keberatan terhadap hal ini. Mungkin saja mereka melihat batas antara yoga sebagai ”produk” dan yoga sebagai identitas sangat kabur. Hal ini tetap harus dikembalikan kepada individu-individu, si pemakai yoga terbut. Jika dinilai bagus dan penuh manfaat, pasti tetap diikuti. Jika tidak ada faedahnya, pasti akan ditinggalkan. Dengan demikian, kita harus arif menerima fenomena pelarangan yoga di Mesir dan di Malaysia. Keadaan ini justru mengingatkan kita bersama, mengapa yoga tidak dipraktikan dalam ber-Hindu di Bali?

I Wayan Artika, dosen Undiksha  Singaraja Bali, Pekerja Pendidikan di YGRP Pacung Tejakula Bali.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: