h1

TRI RNA

26 Oktober 2009

Tri Rna terdiri dari dua suku kata, yaitu tri berati  tiga dan rna berarti hutang. Begitu seseorang dilahirkan di dunia maya ini, dia segera berhutang kepada banyak sumber. Dia berhutang kepada resi, dengan membaca buku-buku suci atas hasil karya mereka. Berhutang kepada para leluhur sebab kita dilahirkan dan kita menggunakan segala manfaat dan mewarisi harta. Kita berhutang kepada para dewa sebab para dewa menyediakan, air, udara, api, tanah dan lain-lain.

Siapa pun yang berlindung kepada Tuhan Yang Maha Esa, menyerahkan diri sepenuhnya, mengikuti perintah-perintah Tuhan (Veda) dan meninggalkan segala tugas kewajiban lainnya, harus diakui sebagai manusia kelas utama. (Bhag.11.11.20). Dalam pernyataan tersebut dari Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, dimengerti bahwa orang yang pada umumnya terikat pada kegiatan kedermawanan, etika, moral, perikemanusiaan, adat istiadat dan kesejahteraan sosial dianggap orang baik hanya menurut perhitungan dunia material maya sukha.

Apabila seseorang terikat dengan kemasyuran yang palsu berupa kekayaan, dia tidak mempedulikan ajaran moral manapun, melainkan dia menikmati kepuasan indria-indria. Dalam keadaan seperti itu, kedudukan orang miskin sering kali lebih baik, sebab orang miskin memikirkan dirinya dalam hubungan dengan badan-badan lain. Orang miskin yang prihatin barang kali berpikir tentang rasa sakit dan rasa senang yang dialami orang lain dengan sikap seolah-olah dia ikut merasakan rasa sakit atau senang itu. Orang miskin jarang menjadi bangga secara palsu, dan ia dapat dibebaskan dari segala hal yang mengikat. Mungkin ia tetap puas dengan apa pun yang didapatnya sebagai nafkah atas karunia Tuhan Yang Maha Esa. Keadaan orang miskin ialah bahwa orang suci dengan mudah dapat masuk rumah orang miskin. Dengan demikian, orang miskin dapat memanfaatkan pergaulan dengan orang suci itu. Orang kaya tidak memperbolehkan siapa pun memasuki rumahnya. Veda mengatakan, orang suci mengambil kedudukan sebagai pengemis supaya dia dapat masuk ke dalam rumah manapun dengan alasan mengemis sesuatu dari orang yang berumah tangga. Ada kesempatan besar bagi orang miskin untuk mencapai pembebasan melalui pergaulan dengan orang suci. Apa gunannya seseorang bangga dengan kekayaan material dan kemasyuran kalau ia kekurangan pergaulan dengan orang-orang suci dan para penyembah Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa?

Dari Srimad-Bhagavatam dan kitab-kitab suci (Veda) lainnya, kita belajar lebih lanjut bahwa kalau seseorang hanya berlindung sepenuhnya dengan menyerahkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, maka:
Devarsi-bhutapta-nrnam pitrnam
Na kinkaro nayam rna ca rajan
Sarvatmana yah saranam saranyam
Gato mukundam parihrtya kartam.

“Orang yang sudah menyerahkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan menyerahkan tugas kewajiban lainnya, tidak berhutang lagi, dan dia juga tidak mempunyai kewajiban terhadap seseorang–baik kepada dewa, resi-resi, masyarakat umum, sanak saudara, manusia, maupun leluhur”. ( Bhag.11.5.41)

Ida Bagus Peradnyan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: