h1

Tak Perlu Resah, Walau Yoga Diharamkan Agama lain

26 Oktober 2009

Yoga adalah salah satu dari enam sistem filsafat Weda. Enam sistem filsafat berdasarkan Weda itu disebut Sad Darsana,  yaitu Nyaya Darsana isinya filsafat logika, pembangunnya Resi Gotama. Kedua, Waisesika Darsana isinya pengetahuan  untuk menuntun manusia memahami realisasi sang diri, pembangunnya Resi Kanada. Ketiga, Samkhya Darsana isinya tentang proses perkembangan kejadian alam semesta. Pembangunnya Resi Kapila. Keempat, Yoga Darsana,isinya tentang pengendalian diri secara fisik dan mental untuk mencapai jalan Tuhan. Pembangunnya adalah Resi Patanjali. Kelima, Mimamsa Darsana disebut pula Purwa Mimamsa isinya pembahasan tentang bagian-bagian awal dari ajaran Weda Sruti. Pembangunnya Resi Jaimini. Keenam, adalah Wedanta Darsana disebut juga Uttara Mimamsa Wedanta. Isinya  hubungan antara Tuhan dengan dunia, antara Atman dengan Paramatma.

Keenam sistem filsafat Weda ini dibangun oleh enam Resi untuk menjabarkan isi ajaran Weda tersebut, agar lebih mudah dapat diserap oleh umat penganut Weda. Syair-syair Weda Sruti sabda Tuhan itu disebut Mantra. Jumlah Mantra Weda Sruti itu 20389 syair. Sedangkan syair-syair Sastra Weda disebut Sloka. Mantra Weda Sruti itu tergolong Prabhu Samhita. Karena Mantra Weda Sabda Tuhan itu penuh wibawa sehingga tidak mudah dipahami oleh umat yang awam. Karena  itu para Resi merekontruksi ajaran Weda itu agar menjadi rumusan yang disebut Suhrita Samhita yaitu rumusan yang lebih mudah dipahami oleh umat penganut yang amat beragam.

Weda disebut Weda Mata, artinya sebagai ibunya ilmu pengetahuan. Para Resi bagaikan Dokter akhli kebidanan untuk menuntun lahirnya berbagai ilmu pengetahuhan dari Weda. Resi Patanjali menuntun lahirnya ajaran Yoga dari sumbernya, yaitu Weda Sruti.Tujuannya agar umat penganut Weda lebih mudah memahami konsep Weda dalam menuntunnya mengendalikan dinamika kehidupan duniawi dan rohaninya agar serasi dan seimbang sebagai dasar menjalani hidup menuju jalan Tuhan. Ajaran Yoga yang dilahirkan dari kandungan Weda Sruti oleh Resi Patanjali ini terdiri dari empat Adyaya atau 4 bab dengan 194 Sutra atau syair-syair pendek. Dalam Sutra pertama dinyatakan pengertian Yoga sebagai berikut, Yogascitta vrtti nirodhah. Artinya, Yoga adalah pengendalian  gelombang-gelombang pikiran dalam alam pikiran. Para pengulas ajaran Yoga ini mengandaikan gelombang pikiran itu bagaikan air di danau, sedangkan Atman bagaikan dasar danau. Kalau air danau itu jernih dan tenang tidak bergelombang, maka dasar danau akan terlihat jelas dan terang. Kalau pikiran tidak bergejolak maka sistem diri akan dapat berjalan dengan baik.

Sistem diri yang baik dan ideal salah satu penjelasannya ada dalam Bhagawad Gita III.42. Sistem diri yang ideal itu adalah indria yang sehat dan sempurna itu berada di bawah kendali kecerdasan pikiran atau Manah. Kecerdasan pikiran berada dibawah kendali kesadaran Budhi.Kondisi sistem diri yang demikian itulah akan dapat, menjadi media untuk mengimplementasikan kesucian Atman. Dengan demikian dinamika ekspresi pikiran, perkataan dan perbuatan  selalu pada jalan Tuhan atau Dharma. Mengendalikan sistem diri yang ideal itu ajaran Yoga memberikan delapan tuntunan secara bertahap. Delapan tahapan ajaran Yoga itu disebut Astangga Yoga, yaitu Yama, Niyama, Asana, Pranayama, Pratyahara, Dharana, Dhyana dan Samadhi. Inti ajaran Yoga ini adalah Hatha Yoga dan Raja Yoga. Hatha Yoga ajaran untuk membangun hidup sehat secara jasmaniah, sedangkan Raja Yoga tuntuan untuk membangun kehidupan rohani yang tenang dan damai, namun tetap dinamis untuk mewujudkan petunjuk Weda dalam mencapai tujuan hidup sejahtera lahir batin.

Delapan tahapan Yoga mencapai hidup yang terkendali itu diawali dengan melakukan  ajaran Yama. Ajaran Yama ini meliputi lima pedoman pengendalian diri pada tahapan awal, yaitu Ahimsa adalah tidak melakukan tindakan kasar dengan kekerasan mencapai suatu tujuan hidup.  Satya adalah selalu patuh pada kebenaran dan kejujuran. Asteya tidak mencuri termasuk tidak korupsi dan sejenisnya. Brahmacari artinya pantang melakukan hubungan sex yang menyimpang. Aparigraha artinya tidak serakah atau tidak mau menerima sesuatu yang tidak wajar dan tidak benar. Pengendalian diri dalam ajaran Yoga tahap selanjutnya adalah Niyama. Ajaran Niyama ini terdiri dari lima jenis, yaitu Sauca artinya bersih lahir batin.Secara fisik sehat dan bersih dan secara rohani tidak diliputi oleh niat-niat buruk seperti iri dengki dan jahat. Santosa adalah hidup tenang dan puas tidak mudah mengeluh. Tapa artinya selalu dapat mengendalikan gejolak hawa nafsu. Swadhyaya artinya gemar belajar  dan Iswaraparnidhana artinya senantiasa melakukan pemujaan kepada Tuhan. Yama dan Niyama ini ajaran Yoga pada tahap awal dalam mengendalikan diri menuju jalan Tuhan. Unsur  ajaran Yoga yang ketiga adalah Asana artinya membina sikap tubuh yang lentur dan sehat melalui latihan sikap tubuh yang disebut Asana.

Sesungguhnya senam dan yoga berbeda. Pranayama artinya mengatur latihan pernapasan. Sri Ravi Shankar menyatakan, ada tiga hal untuk memelihara energi tubuh agar selalu energik, yaitu mengonsumsi makanan yang Satvika,tidur yang teratur sesuai dengan aturan tidur dan terpeliharanya sistem pernapasan yang sehat. Ajaran Pranayama adalah ajaran untuk mengatur pernapasan melalui latihan-latihan yang teratur dan bersisitem. Pratyahara artinya menarik pikiran dari objek-objek yang menggelisahkan, seperti objek yang membuat rasa iri, dengki, yang merangsang  bergejolaknya hawa nafsu dan lainnya. Dharana  adalah mengarahkan dan menetapkan pikiran pada suatu objek yang suci, baik yang ada dalam diri maupun yang berada di luar diri. Dhyana artinya kadaan pikiran yang sudah terkonsentrasi pada Tuhan. Karena itu Sarasamuscaya menyatakan Dhyana ngarania Siwa smaranam. Pikiran yang telah menetap pada jalan Tuhan itulah yang disebut Dhyana. Sri Swami Siwananda menyatakan beda antara Dhyana dengan Samadhi. Dhyana itu adalah konsentrasi sedangkan Samadhi adalah meditasi. Apa yang disebut-sebut sebagai meditasi dewasa ini sesungguhnya adalah latihan konsentrasi. Meditasi sebagai tujuan akhir dari konsentrasi. Samadhi itu adalah keberadaan pikiran yang telah menetap dengan mantap pada Tuhan.

Adanya pendapat yang miring tentang Yoga dalam suatu masyarakat yang demokratis bisa saja terjadi.Bahkan ada kelompok penganut suatu agama menyatakan bahwa Yoga itu haram. Secara etika cara seperti itu sangat tidak tepat dilakukan dalam kehidupan antarumat beragama. Meskipun pernyataan tersebut terjadi di luar Negara Kesatuan RI. Bagaimana jadinya suasana beragama kalau setiap penganut agama secara eksplisit menyatakan suatu ajaran agama yang tidak dianutnya sebagai sesuatu yang haram. Setiap agama tentunya sudah memiliki ajaran dan bentuk-bentuk pelaksanaannya yang baku sesuai dengan petunjuk kitab sucinya. Ajaran Agama dengan bentuk-bentuk pelaksaan yang dianutnya tentunya berbeda dengan ajaran dan bentuk pelaksanaan agama yang lain yang tidak dianutnya. Sangat tidak bermoral dan tidak berbudaya kalau ajaran dan bentuk pelaksanaan suatu agama yang tidak dianut sebagai dinyatakan sebagai sesuatu yang negatif seperti diharamkan itu. Karena konotasi haram itu adalah negatif.

Diharamkannya Yoga oleh sekelompok umat beragama yang bukan Hindu tersebut, tidak perlu ditanggapi secara emosional oleh umat Hindu secara individu maupun melalui lembaganya. Sebaiknya umat Hindu jangan ikut-ikutan membuat reaksi negatif seperti mengharamkan suatu bentuk pengamalan suatu ajaran agama yang bukan Hindu. Hormatilah setiap pelaksaaan ajaran Agama orang lain sesuai dengan keyakinannya masing-masing. Mari kita tanggapi secara dewasa dan rasional saja reaksi negatif atas ajaran Yoga tersebut.Jadikan pernyataan tersebut sebagai upaya untuk meningkatkan kwantitas dan kwalitas penerangan tentang ajaran Yoga khususnya dan ajaran Weda pada umumnya.Penerangan tersebut dilakukan secara luas agar pemahaman akan ajaran Yoga itu semakin dipahami secara benar dan jelas oleh siapa pun yang ingin memahami ajaran Yoga tersebut. Jadikan kesempatan ini untuk lebih bangkit dan lebih bersemangat meningkatkan kwantitas dan kwalitas penjelasan-penjelasan tentang Yoga secara benar sesuai dengan acuan pustakanya.

Munculnya reaksi negatif pada ajaran Yoga tersebut ada kemungkinannya disebabkan oleh semakin banyaknya umat yang bukan Hindu ikut belajar dan berlatih Yoga. Dari belajar dan berlatih Yoga itu mereka mendapatkan kemajuan hidup dalam berbagai hal. Misalnya ada yang merasakan hidupnya semakin sehat secara fisik, ada yang merasakan semakin tenang secara rohani. Ada juga yang merasakan semakin mampu berkonsentrasi melaksanakan berbagai kegiatan hidup, sehingga memperoleh kesuksesan dalam melakukan berbagai pekerjaan. Ada yang merasakan semakin bertambah kuat wawasannya dalam memahami dinamika hidup ini setelah belajar dan berlatih Yoga. Banyak pihak merasakan memperoleh kontribusi positif setelah ikut belajar dan berlatih Yoga.

Ada pihak-pihak tertentu khawatir umatnya akan pindah agama  dari agamanya semula. Sesungguhnya tidak perlu ada kekhawatiran seperti itu, karena agama Hindu tidak membutuhkan penganutan agama yang bersifat formal seperti itu. Yang paling utama adalah, mereka  menjadi umat yang baik dalam artian umum, bisa membangun hidup yang sehat secara jasmani, tenang dan damai secara rohani dan konsentrasi bekerja sesuai dengan profesinya masing-masing untuk kemajuan hidup bersama. Inilah yang diutamakan oleh ajaran Yoga yang universal tersebut.

Drs I Ketut Wiana. M.Ag. – Dosen Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: