h1

Setelah Mendunia, Yoga Menuai Curiga

26 Oktober 2009

Pihak berkuasa Mesir dilaporkan telah mengeluarkan fatwa terbaru yang isinya melarang senam Yoga karena dianggap haram dari sisi Islam. Ulama Malaysia pun mengikuti jejak itu, melarang umatnya mempraktikkan senam yoga dan sejenisnya. Kini, bayang-bayang fatwa yang mengharamkan yoga juga diwacanakan di Indonesia. MUI tengah meneliti yoga di Indonesia, apakah pantas dikategorikan haram atau halal.

Apa yang menjadi kebijakan agama lain dalam mengatur ranahnya sebenarnya bukanlah persoalan bagi umat Hindu, yang merupakan sumber tradisi yoga itu. Pun soal mengharamkan yoga oleh umat lain juga hal lumrah saja, karena itu adalah urusan keyakinan mereka. Bukankah misalnya Islam sudah mengharamkan daging babi sejak awal agama itu berdiri, toh bagi orang Hindu yang doyan menyantap daging babi tak merasa terganggu, bahkan guling babi terkadang menjadi persembahan suci di pura. Nah, ini adalah perbedaan keyakinan yang berlaku di masing-masing intern agama, jadi tak soal. Demikian juga muslim yang ingin mendisiplinkan diri dalam menjaga akidah agamanya, adalah hal wajar juga bila mereka menfatwakan sesuatu, bila satu hal atau kegiatan atau ajaran tersebut dinilai berpotensi merongrong kemurnian agamanya. Dengan demikian, persoalannya bukanlah pada fatwa haram mereka tentang yoga, tetapi pertanyaannya justru lebih penting di dalam intern Hindu sendiri, yaitu bagaimana mengemas yoga untuk masyarakat global yang universal tanpa menyebabkan pihak-pihak lain merasa terganggu keimanannya terhadap agama yang sudah dipeluknya.

Agama yang hebat dan besar adalah agama yang ajarannya dapat menembus semua sekat perbedaan. Apakah itu sekat perbedaan etnis, warna kulit, struktur ekonomi, perbedaan bangsa, bahkan berbeda agama. Sistem tahun Masehi warisan Kristiani misalnya bisa diterima semua bangsa, sehingga menjadi universal dan dunia merasa menjadi satu keluarga. Huruf Latin juga diterima sebagai huruf yang berlaku secara universal. Dan semua ini adalah hal sehat, karena ajaran agama mestinya tidak menjadi hak monopoli subjektif pribadi atau segolongan masyarakat saja.

Berdasarkan alasan tersebut juga, yoga berkembang ke seluruh dunia. Dari Himalaya turun ke masyarakat ramai, menuju Benua Amerika, Eropa, Australia, dan Afrika. Menerobos masuk ke berbagai pemeluk agama yang berbeda-beda.  Tak jelas kapan yoga mendunia dan digandrungi masyarakat yang sebelumnya diganyang budaya profan dan hedonisme. Terutama setelah keberangkatan Vivekananda ke Amerika, diikuti Paramahamsa Yogananda, Srila Prabhupada, Maharsi Mahesh Yogi dan lainnya, tak ayal yoga dengan segala variannya menemukan ladang subur. Semua ini semata-mata disebabkan oleh alasan praktis, bahwa praktik yoga itu dirasakan manfaatnya secara riil oleh para pengikutnya. Tak berhenti sampai di situ, karena serombongan ilmuwan, dokter, ahli jiwa dan ahli lainnya ramai-ramai meneliti yoga secara ilmiah.

Di belahan dunia lain, yoga kadang-kadang hanya dipandang sebagai cara untuk memelihara kesehatan raga dan jiwa. Dan mungkin alasan ini yang menjadikan yoga semakin popular, meski tak sedikit orang yang menekuni yoga secara serius untuk menemukan pencerahan. Hanya kemudian masalahnya adalah, masyarakat dunia yang kadung dibesarkan oleh budaya saling curiga mencurigai, akibat sisa-sisa dendam sejarah dalam perang Salib, yang mengantar agama-agama saling curiga mencurigai. Hindu juga memiliki phobia seperti ini, ketakutan umatnya akan dikonversi ke agama lain. Memang, persaingan untuk memiliki jumlah umat akhirnya menjadikan terhalangnya manusia untuk menikmati karunia-karunia. Dengan alasan merupakan tradisi agama lain, maka tak sedikit orang (agamanya bisa apa saja) mengundurkan diri untuk melakukan sesuatu yang mestinya sesuatu itu sangat menguntungkannya secara lahir batin.

Bila Hindu mengemban semangat universalisme, vasudhaiva kuthumbhakam, maka mengusung yoga untuk masyarakat global perlu kearifan. “Berbicaralah kepada masing-masing orang sesuai takaran dan tingkatannya,” demikian orang bijak berpesan. Maksudnya, mengajarkan yoga yang universal ada cara-caranya sesuai masyarakat semacam mana dihadapi. Ketika kelompok masyarakat ingin memperoleh manfaat kesehatan jiwa dan raga melalui yoga, tapi tak siap melantunkian doa versi Weda, maka perlu kompromi, supaya doa-doa bisa disesuaikan dengan keyakinan mereka masing-masing. Bukankah orang Bali, Jawa, Hindu Kalimantan juga tak selalu berdoa dengan versi Weda? Hanya kemudian, bila ketemu orang-orang yang telah terbuka wawasannya, bahwa mantra memiliki metrum, gelombang energi tertentu kepada setiap kelenjar dan semua itu adalah ilmiah, maka barulah mantra diajarkan.

Seorang pengajar meditasi bernama Prabu Darmayasa misalnya, ia mengajarkan meditasi dengan media angka, bukan mantra. Shri-Shri Shri Siwarudrabalayogi mengajarkan Dhyana Yoga tanpa mantra apa pun. Artinya, yoga tanpa mantra adalah lumrah dan yoga semacam ini bisa menembus kalangan masyarakat yang fanatik terhadap ajaran agamanya.

Di Indonesia, kecurigaan terhadap yoga yang bisa merusak keimanan agama tertentu justru datang dari mereka yang tidak tahu yoga sama sekali. Seorang pengajar yoga yang berdomisili di Jakarta, A.S. Kobalen misalnya bertutur, kalau siswanya berasal dari berbagai agama, dan mereka tak masalah untuk mengucapkan So-Ham, misalnya. Di Sanggar Samashty Prana yang didirikannya sejak tahun 1998 selalu disesaki peserta kursus yoga. “Kami tak merasa perlu melakukan antisipasi apa pun mengenai kemungkinan MUI menfatwakan yoga sebagai hal haram bagi pemeluk Islam,” aku Kobalen awal Desember 2008 lalu di Denpasar.Menurutnya, pihaknya tak merasa perlu gusar atas fatwa-fatwa semacam itu, toh ia mengajar siapa saja yang mau datang ke ashramnya tanpa membedakan latar belakang keyakinan agama, bangsa, jenis kelamin dan sebagainya. “Toh, kami tidak memaksa mereka untuk ke sini, tapi mereka yang telah dewasa dalam beragama itulah dengan sukarela berlatih yoga untuk kesehatannya,”tambah lelaki yang tengah berencana Kuliah Magister di IHDN Denpasar ini.

Pada kesempatan terpisah, Acharya dari Ananda Marga, Dada Mitra Budhyananda yang bertugas di Indonesia menyebutkan, kalau ia sudah biasa mengajar yoga kepada non Hindu. Tapi, dalam praktiknya, Dada Mitra memang hanya mengajarkan yoga dengan mantra kepada peminat yang serius dan sudah memahami yoga dengan baik. Bila pemula maka cukup diajari latihan konsentrasi saja, dan setelah ikut kelas cukup lama baru diajarkan mantra Baba Nam Kevalam.

Meskipun di Malaysia dan Mesir yoga telah diharamkan oleh muslim setempat, tapi aktifitas Ananda Marga dalam mengajarkan yoga tetap berrjalan tanpa gangguan. Malahan menurut Dada Mitra, isu yoga haram malahan menjadikan promosi gratisan bagi yoga itu sendiri, karena setelah isu itu kini banyak orang mencari tahu tentang, apakah yoga itu sebenarnya.

Sebenarnya yang paling mencengangkan dan memiriskan adalah, ketika tradisi Hindu berupa yoga, baik itu asanas, pranayama, dharana, dhyana dan sebagainya digandrungi masyarakat dunia, justru tradisi itu tak mentradisi di kalangan Hindu Indonesia. Mungkin, hal ini disebabkan oleh faham catur Yoga: Bhakti Yoga, Karma Yoga, Jnana Yoga dan Raja Yoga. Yoga yang berasal dari akar kata yuj yang bermakna penyatuan, peleburan dengan kesadaran makro (Brahman), dapat ditempuh melalui banyak jalan. Yoga yang popular dikenal umum adalah bagian Astanga Yoga, entah itu meditasi, pranayama, juga asana. Juga bentuk hatha yoga, yaitu gerak tubuh tertentu untuk merangsang kelenjar dan hormon-hormon tubuh menjadi aktif dan seimbang. Tapi sesungguhnya yoga tak sesempit itu, sehingga dengan rajin mebhakti ke pura merupakan praktik Bhakti Yoga bagi masyarakat Hindu di Bali. Atau dengan rajin mencangkul sawah dan menanaminya dengan tanaman pangan adalah praktik Karma Yoga bagi petani. Jadi, adakah di antara kita yang tidak ber-yoga? Mari kita cangkul sawah, bila masih punya. Karena ini yoga produktif lahir batin dan yang pasti, mencangkul sawah dan kerja keras lainnya adalah “halal”.
N. Putrawan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: