h1

Pro dan Kontra Universalitas Yoga

26 Oktober 2009

Akhir tahun 2008, di berbagi media massa telah terjadi pro dan kontra menyangkut praktek yoga di kalangan umat non Hindu di Indonesia. Mungkin karena orang melihat,  mengamati dan melakukan penilaian dari luar, serta mungkin ada kekhawatiran menyimpang dari ajarannya. Padahal dalam prakteknya, apa pun agamanya atau keyakinannya, mereka dianjurkan untuk menggunakan keyakinan yang sudah melekat pada diri yang bersangkutan atau untuk meningkatkan keyakinannya sendiri, sedangkan kalau dilihat dari gerakan atau Asanas, mungkin tidak terlalu masalah. Para penganut Hindu atau para pembimbing yoga yang sejati tidak akan melakukan proselitasi (membujuk orang lain yang sudah beragama), dan Hindu tidak pernah membuat janji-janji palsu pada orang yang baru menjadi Hindu, karena kebenaran-kebenaran  spiritual yang paling dalam tidak dapat diucapkan, hanya dapat dirasakan melalui pengalaman dalam (batin).

Di kalangan umat Hindu, yoga merupakan salah satu jalan untuk mencapai tujuan hidup yang disebut dengan Raja Yoga. Raja Yoga pada intinya adalah satu jalan yang sangat ilmiah dalam pengejawantahan (mencapai) Tuhan. Tujuan dari Raja Yoga adalah bagaimana mengonsentrasikan pikiran, kemudian mencapai keadaan istirahat yang terdalam (bawah sadar) dari pikiran itu sendiri. Dalam jalan ini, Tuhan dianggap sebagai energi murni.  Pikiran itu tidak pernah menanyakan apa agama kita, apakah dia beragama atau ateis, Kristen, Islam, Yahudi, Budha yang penting adalah manusia, itu sudah cukup. Svami Vivekananda mengatakan, dalam pelajaran Raja Yoga tak dipentingkan keyakinan atau kepercayaan. Jangan percaya apa pun sebelum kau membuktikannya sendiri. Kalau dilihat dari akal sehat, penulis berpendapat justru dengan praktek yoga akan membantu bersangkutan beribadah lebih baik sesuai dengan keyakinannya masing-masing. Orang yang sudah melakukan yoga atau meditasi pun secara berkesinambungan telah merasakan manfaatnya, merasakan suatu kebahagiaan, serta secara medical science telah terbukti memberikan banyak manfaat dalam sistem pengendalian pikiran, panca indria, dan kesehatan badan.

Dalam praktek yoga, diri ini bukan badan, tetapi roh  sejati yang abadi, mengaktifkan Kundalini (sebuah energi shakti) bersemayam di sumsum tulang belakang merambat naik melalu tujuh tingkatan Chakra. Sepanjang sushumna, ada tujuh pusat-pusat jiwa (psychic centre) mulai dari Muladhara Chakra di dasar tulang belakang  sampai dengan Sahasrara Chakra (terletak di atas titik paling atas dari kepala). Tentu kita tidak bisa memaksakan pengertian pada  umat non Hindu, bahwa teknik yoga itu adalah universal. Mengenai orang lain, kita tidak ada hak dan sebaliknya tidak melihat apa  dan bagaimana mereka. Dan tidak punya hak mencampuri cara pemujaan mereka, yang mana akhir-akhir ini ramai di media massa, salah satu agama tidak memperkenankan umatnya mempraktekkan yoga.

Praktek yoga telah dilakukan sejak zaman Veda lebih dari 7.000 tahun, sejalan dengan berkembangnya agama Hindu lebih dari 6.000 – 7.000 tahun sebelum masehi yang telah mempraktekkan Yoga memuja Tuhan Siva atau Tuhan Rudra. Meskipun dalam praktek sekarang sudah dikemas dalam berbagai macam, ucapan mantra-mantranya telah diterjemahkan ke berbagai bahasa orang lain, atau menggunakan angka, atau simbol lainnya, namun tidak bisa dipungkiri orang akan menanyakan merk yang masih orisinil. Kita harus mau memahami pihak lain,  bahwa penganut agama orang lain merasa terganggu keimanannya bila umatnya mencampuradukkan dengan praktek yoga.  Tetapi mereka juga tidak punya hak untuk menyeberang pagar untuk menilai yoga, apalagi sampai ada indikasi untuk melecehkan. Karena memburukkan nama orang lain atau keyakinan orang lain secara sengaja termasuk kekerasan. Sementara kekerasan tidak menjunjung kebenaran, hanya melemahkan kebenaran.

Selanjutnya, yoga lahir dari India yang dikembangkan oleh para Rsi yang dikemas dalam ajaran Hindu yang telah berpengaruh mewarnai peradaban dunia, di sisi lain agama non Hindu juga telah memberikan sumbangan-sumbangan pada pada peradaban dunia, yang saat sekarang sudah dipakai secara universal. Rsi Patanjali mendefinisikan yoga sebagai “Chitta-Writti Nirodha.” Yoga adalah “persatuan dengan yang suci” atau “moksha” berarti penghentian dari getaran-getaran atau penyederhanaan pikiran. Rsi Patanjali tidak menyebut Tuhan hanya untuk agama tertentu, universalitas ini membebaskan yoga dari pertentangan dengan ajaran agama yang lainnya. Memang dibutuhkan toleransi dan saling pemahaman, karena sumber kebenaran adalah Tuhan, antarmanusia bisa saja mengklaim, karena dipengaruhi ahamkara (egoisme). Dalam  Gita dikatakan: “Pengertian yang diselimuti oleh kegelapan, sehingga yang benar dikatakan salah, dan segala yang dilihat sebaliknya, wahai Arjuna, itulah yang dinamakan Tamasya” (BG 18.32). Tentu saja, kita harus mengedepankan sifat-sifat Satwam yang melakukan kebajikan untuk seluruh makhluk hidup untuk mencapai Ananda dari Sang Roh.

Para tokoh yang mempunyai pengaruh pada penganut agama tertentu dalam sebuah lembaga agama bisa saja membuat peraturan, bhisama, fatwa atau sebutan lainnya, namun dengan pengkajian yang mendalam dengan membuka hati dan menggunakan akal sehat, sehingga tidak berpotensi menimbulkan konflik apalagi sampai memecah belah bangsa. Biasanya orang akan mengatakan sesuatu itu menyimpang, setelah memahami dengan baik.  Penyimpangan paling dini akan terasa melalui hati dan akal budi untuk menyaring mana yang benar dan mana yang salah.

Memang tidak bisa dipungkiri pada masa sekarang ini, orang sering bersama-sama dan beramai-ramai “menyetujui atau menolak” aktivitas tertentu bermerk agama yang bisa dipamerkan pada orang lain. Jarang orang bersedia menerima kebenaran berasal dari segala arah, bahwa agama itu berarti aktivitas mental spiritual ke dalam roh. Sudah terlalu sering kita menyaksikan di media masa tentang permainan orang penting (tokoh) selalu mencari kambing hitam atau mencari kesalahan di luar diri.

Lebih lanjut, sudah menjadi kebiasaan umum, akan terjadinya perdebatan atau pro dan kontra tentang sesuatu hal, biasanya karena sama-sama tidak mengetahui, atau baru tahu sebatas kulit luarnya saja, seandainya mereka sama-sama mengetahui mereka tidak akan berbantahan. Yoga terbuka bagi siapa saja, apa pun agamanya, apapun suku bangsanya, semua orang memiliki hak yang sama terhadap praktek Yoga, sama halnya seperti Teori Quantum dari Yahudi – Jerman Einstein.  Semua orang memiliki hak yang sama mengutip Krishna, Socrates, dan sebagainya, seperti halnya kesenian dalam budaya Jawa, Mahabharata sudah berabad-abad dipentaskan melalui dunia pewayanagan. Tetapi  jangan coba memasuki gerbang orang yang beragama yang fanatik yang tidak punya toleransi. Sebenarnya, dalam beragama yang paling mendasar adalah berbuat kebajikan dengan memiliki keyakinan kuat, jujur dan dengan sungguh-sungguh melaksanakan disiplin atau latihan rohani, atau pantangan, yang dilandaskan dengan sraddha (keimanan). Perhatian ditujukan ke dalam diri, tidak perlu pamer agar orang lain tahu terhadap apa yang sedang kita lakukan. Praktek yang dilakukan  hanya dilihat oleh diri sendiri,  sebab dari diri dan untuk diri, dan bukan untuk ditunjukkan pada orang lain.

Akhirnya, orang jarang menyadari, bahwa beragama itu seharusnya diarahkan ke dalam diri, dan tidak patut membicarakan keburukan pihak (orang lain), karena tidak ada energi positif yang diperoleh dari hal seperti itu. Tetapi, sering secara tidak disadari orang telah membatasi dirinya, dengan  mengganggap beragama adalah suatu kelompok masyarakat tertentu melakukan kegiatan dengan menggunakan doa-doa tertentu, dipraktikkan di tempat ibadah tertentu. Tetapi bagimana pun hebohnya perdebatan tentang praktek yoga, tidak usah dikhawatirkan karena semua akan kembali kepada kebenaran.  Untuk mengubah kesadaran, tidak ada proses atau jalan yang mudah atau instan, Tuhan demikian dekat dengan kita, tetapi manusialah yang sering menjauhkan diri dari-Nya.

Nyoman Sedana adalah pendharmawacana PHDI Banten dengan pendidikan terakhir doktor

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: