h1

Pengalaman Misterius Eva Setelah Rajin Meditasi Gayatri

26 Oktober 2009

Kisah Eva, seperti kisah film. Atau seperti kisah-kisah dalam kesenian tradisional drama gong. Ia bertemu dengan sejumlah orang yang kemudian menghilang tiba-tiba. Dia pernah kedatangan laki-laki di kamarnya secara mesterius karena pintu dalam keadaan tertutup, tahu-tahu orang itu sudah muncul. Puncaknya dia dibelikan tiket dan dibuatkan pasport oleh “utusan” Bhagawan Satya Sai Baba untuk datang ke Puttaparti (India), Sungai Gangga, dan ke sebuah sumur yang dipercaya sebagai sumur Drupadi. Semua itu bermula dari ketekunan Eva melakukan meditasi dan berjapa Gayatri mantram.

Gadis yang masih single dan berusia 26 tahun ini sebenarnya tidak secara khusuk menyembah Baba. Ia belum layak disebut sebagai bhakta, sebutan bagi orang-orang yang mempercayai Sai Baba sebagai awatara. Sebab Eva jarang sekali pergi ke center, tempat khusus untuk memuja Baba. Ia pun belum sepenuhnya menempuh hidup sebagai vegetarian. “Seminggu sekali, setiap Kamis, saya memang makan makanan vegetarian. Di luar hari itu saya makan daging seperti orang kebanyakan,” kata Eva ketika ditemui di rumahnya di Jalan Pulau Obi, Singaraja, pertengahan Desember 2008.

Eva adalah panggilan akrab anak sulung dari pasangan I Wayan Nyeneng dengan Nyoman Suryani. Nama yang sebenarnya tidak demikian. Eva keberatan nama lengkapnya ditulis. “Memang sejak kecil dia dipanggil Eva. Entah apa alasannya, orang-orang pada memanggil demikian,” jelas Wayan Nyeneng yang berasal dari Desa Kutuh, Kintamani, Bangli.

Eva bercerita,  pada tahun 2003 dia membeli patung Ganesha yang berukuran kecil. Saking kecilnya, patung tersebut bisa disembunyikan di balik kepalan tangan orang dewasa. Patung itu ditempatkan di tempat persembahyangan yang ada di kamar tidurnya atau yang umum dikenal sebagai pelangkiran. Setiap tengah malam, tepat waktu menunjukkan pukul 24.00, Eva memulai melakukan meditasi dangan japa Gayatri mantram. Waktu yang dihabiskan untuk meditasi sekitar 30 menit.

Ternyata motivasi Eva membeli patung Ganesha bukan alasan spiritual. Yang mendorong dia membeli patung Dewa Ganesha karena wujudnya yang lucu. Kombinasi antara kecil dan lucu itu menyebabkan patung tersebut dibawa kemanapun dirinya pergi. Sebagai seorang penjual madu, Eva memang sering pergi ke Denpasar maupun ke tempat lain untuk menjajakan produknya. Madu itu buatan Amerika. Eva melakoni itu setelah dia bergabung dalam satu perusahaan multi level marketing (MLM), sejak sekitar enam tahun yang lalu.

Madu itu selalu Eva persembahkan terlebih dahulu di pelangkiran-nya. Kepada siapa madu-madu dipersembahkan? Madu itu dipersembahan kepada Bhagawan Sai Baba. Meskipun belum menjadi bhakta, tapi belakangan Eva membeli gambar sosok awatara itu dan dipasang di dinding kamarnya, persis di atas pelangkiran.

Suatu hari, 8 Januari 2007, Eva terkejut bukan main. Sebab, malam-malam ketika dia sedang membaca di kamarnya, tiba-tiba muncul sosok laki-laki di kamarnya. Padahal pintu kamar dalam keadaan tertutup. “Bagaimana orang itu masuk, saya tak tahu,” katanya.

Lalu kepada laki-laki yang usianya diperkirakan sekitar 50 tahunan itu, Eva mencoba menyapa. Katanya, “Saya tak takut jika Anda bermaksud baik. Tapi saya akan takut bila Anda bermaksud tidak baik.” Setelah kata-kata itu diucapkan, orang yang berambut keriting itu hanya tersenyum lalu menghilang. Sebagaimana biasanya, setelah lelaki itu menghilang, Eva melakukan meditasi, karena peristiwa aneh itu terjadi menjelang tengah malam. Dalam meditasi, Eva tak pernah mendapat inisiasi dari seorang guru. Dia melakukan atas kemauan sendiri. Kenapa Gayatri yang dipakai japa meditasi, ya, karena mantram itu sudah dikenal banyak orang. Sehingga hampir setiap orang bisa melafalkan.

Puncak-puncak peristiwa aneh dimuali pada awal Oktober 2008. Suatu hari, tepatnya hari Rabu tanggal 8 Oktober, Eva jalan-jalan ke pusat kota Singaraja, sekitar dua kilometer dari tempat tinggalnya. Di depan kantor pos, di Jalan Dr. Sutomo, dia melihat seorang laki-laki tua yang merintih kesakitan. Orang tua itu sudah tak mampu berjalan. Jangankan berjalan, untuk berdiri saja tidak bisa. Lelaki itu mengaku sudah sejak tiga hari sebelumnya belum makan. Karena iba, Eva menyuruh orang itu menunggu, dan berjanji segera kembali untuk membelikan nasi dan air. Eva cepat-cepat membeli nasi dan sebotol air mineral. Sayang, pemberian Eva ditolak. “Sampai saya bertanya, lalu apa yang Bapak perlukan? Uang saya tinggal Rp 12.000,” tanyanya sambil sedikit kecewa. Karena saat itu Eva sedang memperbaiki sepeda motornya di sebuah bengkel yang jaraknya tidak jauh dari tempat laki-laki itu “ditemukan”. Eva khawatir uang yang tersisa tak cukup untuk ongkos bengkel.

Untungnya lelaki yang berpenampilan amat lusuh itu tidak meminta untuk dibelikan yang aneh-aneh. Lelaki itu meminta apa yang dibawa, itulah yang diberikan. Maka, karena Eva hanya membawa madu tablet, maka itulah yang diberikan. Kali ini pemberiannya tidak ditolak. Setelah menelan madu dan air, sekonyong-konyong lelaki itu bisa berdiri dan berjalan. Lalu Eva berpaling. Ketika ditoleh kembali, laki-laki itu lenyap bagai ditelan bumi. “Air sisaannya itu diberikan kepada saya, dan saya meminumnya sebagaimana yang diharapkan,” ucap Eva.

Tiga hari berselang, atau 11 Oktober 2008, siang hari, Eva lagi sedang membaca di kamarnya. Tiba-tiba ada orang mengucapkan salam “Om Swastyastu” di depan pintu rumahnya. Ibunya, yang juga berada di kamar tidak mendengar sapaan itu. Padahal kamar ibunya lebih dekat dari posisi pintu. Karena tak ingin mengecewakan tamu, segera disongsong kedatangan tamu tersebut. “Apa benar ini rumahnya dik Eva?,” tanya laki-laki yang menjadi tamu itu. Eva jawab ya, sembari mengajak duduk di serambi depan. Sang tuan rumah bingung, kok tamunya mengenal dia, padahal dia tak mengenal si tamu. Lelaki yang diperkirakan berusia 70 tahun itu miminta agar Eva membubuhkan tandatangan di atas kertas putih. “Tamu itu tidak sama dengan lelaki yang dijumpai di pinggir jalan. Yang dijumpai di Singaraja lebih muda,” terang Eva.

Usai meminta tandatangan lelaki itu pamitan, setelah lebih dulu menjelaskan untuk apa tandatangan itu. Eva diberitahu akan segera pergi ke India. Belum sempat dia mencerna kejadian tersebut, tiba-tiba tamunya itu hilang setelah langkahnya melewati pintu pagar rumahnya. Sama kejadiannya seperti saat dia berjumpa dengan lekaki tiga hari sebelumnya.

Malam harinya, dia kembali mengenang kejadian-kejadian aneh yang beruntun dialami. Ketika dilanda kebingungan, dan hendak ke mana hal itu mesti disampaikan, tiba-tiba handphone-nya berdering. Tapi nomor telepon yang menghubungi Eva tidak terlihat di monitor hp. Seseorang yang mengaku Dharmawan dari center Denpasar ternyata yang menelepon Eva. Dharmawan menjelaskan, harap segera datang ke Denpasar karena ada seseorang yang menitipkan sesuatu untuk Eva.

Tanggal 12 Oktober 2008, Eva berangkat ke Denpasar memenuhi permintaan Dharmawan. Setibanya di Denpasar, Eva bertemu Dharmawan sudah sore, ketika hari mulai gelap. Sebagaimana dijanjikan, Dharmawan menunggunya di center Tonja. Sebelum titipan diberikan, mereka terlebih dulu ikut bhajan. Ternyata titipan itu berupa pasport untuk pergi ke India. “Tapi saya tidak mau pergi kalau sendirian, sebab saya tidak lancar berbahasa Inggris,” kali ini Eva mengajukan syarat.

Dharmawan menegaskan, akan ada seseorang yang akan menemani Eva pergi ke India. Namanya Sri, usianya sekitar 34 tahun. Malam itu juga perempuan yang akan menemani Eva pergi ke India diperkenalkan.

Rencana keberangkatan sudah ditetapkan, yakni tanggal 16 Oktober 2008. Setelah segala persiapan beres, termasuk orang yang bakal menemani, Eva kembali ke Singaraja untuk berpamitan dan mohon doa restu dari kedua orangtuanya. Lantaran takut “ketinggalan kereta”, Eva berangkat ke Denpasar tanggal 15 Oktober. Kebetulan dia memiliki tempat kos di Jalan Nusa Indah, Denpasar.

Saat berangkat dari Denpasar ke bandara Ngurah Rai, Eva dijemput Sri dengan mobil BMW warna merah. Di dalam tasnya, Eva tidak lupa membawa dua buah apel yang sebelumnya telah dipersembahkan kepada Baba. Kelak apel ini akan menjadi bagian cerita aneh Eva. Sebab, apel yang sudah dimakan, bisa kembali utuh. Nantikan sambungan ceritanya pada Raditya edisi berikutnya. Yang jelas, selama dua malam tiga hari di India, selain bisa bercakap-cakap langsung dengan Bhagawan Satya Sai Baba, Eva juga diajak dalam satu mobil ke Sungai Gangga dan Sumur Drupadi. Ia juga ditawari segepok perhiasan terbuat dari emas, namun semua itu ditolaknya. Lalu bagaima pula sosok Dharmawan dan Sri yang berperan dalam perjalanan ke India? Ternyata, dua nama yang terakhir ini tidak ada yang mengenal. “Setelah balik dari India, saya kehilangan kontak dengan Pak Dharmawan dan Ibu Sri. Saya sudah tanya-tanya, dua orang ini tak ada yang mengenal di center Tonja. Padahal saya juga pernah diajak singgah ke rumah Bu Sri, tapi tidak bisa diingat lagi alamatnya kini,” ucap Eva. Meditasi telah mengantarkan dia pada serangkaian cerita keanehan yang tak masuk di akal. Itulah kebesaran Tuhan.  —-Bagian pertama dari dua tulisan—-
Made Mustika

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: