h1

Pelarangan Yoga (Jika Ada) tak Akan Bertahan Lama

26 Oktober 2009

Di kalangan masyarakat spiritual tidak ada kekhawatiran jika sampai ada lembaga atau majelis agama yang mengeluarkan fatwa haram kepada umatnya untuk menjauhi kegiatan yoga. Karena yoga termasuk meditasi tidak perlu dipaksakan kepada orang lain yang tidak percaya.

Namun, manusia yang sadar akan jati dirinya pasti akan mencari kebenaran tertinggi. Manusia-manusia yang telah mengalami pencerahan jiwa atau mereka yang mengerti jalan kebenaran, tidak akan mau tunduk dengan larangan atau ketentuan yang sifatnya imitasi (artifisial). Jika pun pemegang otoritas keagamaan mengeluarkan suatu regulasi yang sifatnya melarang, usia pelarangan itu akan segera dilupakan orang atau ditinggalkan umatnya. Karena itu, pelarangan melakukan kegiatan yoga, tak akan berumur panjang. Demikian diungkapkan seorang acarya (guru kerohanian) dari Ananda Marga Dada Divyadhyaneshananda Avadhuta kepada Raditya pada pertengahan Desember 2008. Dia mencontohkan, sekalipun ulama Malaysia telah mengeluarkan fatwa haram, tetapi center Ananda Marga di Malaysia tetap ramai dikunjungi orang.

Meditasi atau yoga, kata Dada, memang tidak bisa dipisahkan dari Brahman (Tuhan), atman, karmapala, reinkarnasi, dan moksa. Dengan demikian, dapat dimengerti mengapa agama-agama tertentu melarang umatnya ikut yoga dan meditasi. Sebab, lima kepercayaan (Pancasrada) seperti di atas tidak dimiliki oleh semua agama. Sedangkan Hindu memiliki. Hindu bukan hanya memiliki, tapi bagian integral dari ajaran Weda. Diajarkan secara detail bagaimana seharusnya bermeditasi. Dan hampir semua maharsi penerima wahyu adalah berpengaruh terhadap munculnya fatwa,” kata Dada.

Berbicara soal yoga dan meditasi, menurut Ananda Marga, ada sedikit perbedaan. Yoga adalah olahraga spiritual. Di dalam yoga, diperkenalkan beberapa gerakan yang merupakan bentuk duplikasi (tiruan) dari sejumlah hewan dalam merespon suatu penyakit. Atau bagaimana hewan menyembuhkan dirinya bila sakit, itulah yang ditiru. Hormon sangat berperan terkait kesehatan fisik dan mental. Karena itu gerakan yoga merupakan ajaran turun-temurun yang diajarkan para resi untuk mengoptimalkan fisik dan mental dalam mendukung lapisan rohani (spiritual). Dari dunia hewan kita dapat belajar banyak untuk mengoptimalkan hormon-hormon tertentu.

Sementara meditasi adalah merealisasikan diri agar atman bisa “terkelupas” dari kulitnya. Jika semua kulit atman bisa “dikelupas”, barulah terjadi “penyatuan” antara atman dengan Paratman atau Brahman. Peristiwa demikian itu dikenal dengan istilah Aham Brahmasmi (diriku sama dengan Brahman). “Kulit-kulit” atman itu mulai dari Panca Mahabhuta, Panca Tanmatra, Pancaindria, manah (pemikiran), budhi (intelektual), hingga ahamkara (ego palsu). Ada pula yang membagi lapisan tubuh-lapisan tubuh itu menjadi lima lapisan atau yang disebut Pancamaya kosa. Pancamaya kosa terdiri dari anamaya kosa, pranamaya kosa, manomaya kosa, wijnanamaya kosa, dan anandamaya kosa. Lagi-lagi semua pengertian itu tidak dimiliki agama-agama non-Hindu.

Nyoman Partha, salah seorang pengikut Ananda Marga asal Tejakula menambahkan, meditasi identik dengan “membongkar” tubuh. Ciptaan Tuhan terdiri dari prakerti dan purusa. Prakerti adalah badan material. Sementara Purusa terkait rohani (non-material). Karena itu, jika mau menekuni laku spiritual maka tubuh jangan “dimanja”. Misalnya, kalau mau makan, makanlah yang direkomendasikan guru. Dalam meditasi juga ada istilah-istilah yang cukup banyak dalam Hindu. Misalnya, ada yama dan niyama. Dalam yama dan niyama ada istilah ahimsa (tidak melakukan kekerasan), satya (selalu berada dalam bingkai Dharma), astya (tidak mencuri), brahmacarya (rajin belajar agama), aparigraha (tidak terikat dengan materi), saoca (berpikir suci), santosa (selalu puas dengan keadaan), tapas (disiplin), swadyaya (rajin mencari wacana spiritual), dan iswara pranidana (pikiran selalu terpusat kepadaNya). Oleh karena itu, orang-orang spiritual sangat menghindari makan daging. Karena tidak sesuai denganprinsip-prinsip ahimsa. Sedangkan umat kebanyakan masih sangat gemar mengonsumsi daging.

Dengan sejumlah alasan itu, maka Partha tak ambil pusing kalau bakal ada larangan bagi umat tertentu terhadap yoga dan meditasi. Ia setuju dengan Dada, bahwa sampai saat ini orang-orang masih terpikat dengan batasan-batasan agama yang bersifat dogmatis. Karena itu mereka sulit menerima yoga dan meditasi. “Tapi evolusi kebudayaan terus bergerak. Sekarang orang masih terpaku pada kemampuan intelektual. Setelah periode ini dilewati, baru zaman spiritual akan datang menyusul. Saat itu orang tidak lagi terpasung pada label agama,” ujar Partha sembari menambahkan, jika zaman spiritual datang para tokoh agama akan semakin “ditinggal” oleh umatnya. Sekarang pun tanda-tanda itu sudah mulai nampak. Jika pun ada larangan yang disampaikan tokoh agamanya, respon umat akan mbalelo. Mereka tak takut bersikap “membangkang” karena jalan spiritual melampaui batasan-batasan agama.

Sementara itu seorang guru agama Hindu di sebuah SMP di Buleleng yang bernama Luh Asli, M.Ag, merasa risau dengan rencana tokoh-tokoh agama tertentu melarang mempraktekkan yoga dan meditasi. Pasalnya, di sekolah tempatnya mengajar, Luh Asli memberi ekstra kurikuler yoga dan meditasi. Kekhawatiran Asli bukan karena jumlah siswa pengikut ekstra kurikuler yang dia bimbing bakal menyusut. Tidak. Sebab, siswa-siswa bimbingannya kebetulan semuanya beragama Hindu. Kekhawatiran guru agama itu lantaran yoga dan meditasi tertuduh sebagai ajaran yang sesat. “Ya, seperti yang mereka tuduhkan kepada kita, bahwa umat Hindu menyembah berhala. Sekarang lagi yoga dan meditasi dicap sebagai ajaran menyimpang,” katanya.

Namun setelah kekhawatirannya itu didiskusikan dengan beberapa kawannya, Luh Asli bisa bersikap lebih tenang. Stempel negatif (stigma) yang diberikan orang lain tak lepas dari “kaca-mata” yang dipakai oleh mereka. Kalau orang lain memakai kaca-mata hitam, maka keadaan sekelilingnya akan terlihat hitam atau gelap. “Ya, sekarang saya bisa lebih tenang,” kata ibu yang terbilang teliti merawat wajah dan badannya sehingga ia tampak awet muda.

Masalah fatwa haram bagi umat lain untuk mempraktekkan yoga dan meditasi, memang menimbulkan kekhawatiran pada sekelompok kecil umat Hindu. Entah bagaimana sikap umat Hindu yang selama ini mengabaikan praktek yoga dan meditasi. Tradisi beragama dalam Hindu memang banyak. Seperti di Bali, tampaknya sangat dominan mempraktekkan Bhakti Marga. Sehingga mereka menjadi acuh tak acuh ketika elemen kepercayaannya dipersoalkan pihak lain. Sayang sekali, seharusnya setiap pemeluk Hindu menjadikan praktek meditasi sebagai suplemen wajib harian. Hanya dengan demikian manisnya madu meditasi dapat dirasakan. “Tuhan itu kan tidak terlihat oleh mata manusia, hanya lewat meditasi kita bisa merasakan sentuhan Beliau. Bahwa Tuhan itu ada,” kata Dada Divyadhyaneshananda Avadhuta.

Laporan Made Mustika

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: