h1

Ketika Orang Jerman itu Jatuh Cinta Pada Yoga

26 Oktober 2009

Dilahirkan di keluarga yang berkecukupan dan sudah berkeliling dunia berkali-kali ternyata tak membuat hidup Frau Heike Buetze puas. Dalam pencariannya mencari jati diri, ternyata kekayaan yang dia miliki tak menjadi jaminan bahwa kehidupannya bisa tenang dan bahagia.

Suatu hari saat dia bertamasya keliling India, khususnya dari tempat suci satu ke tempat yang lainnya, ternyata dia merasakan adanya getaran kedamaian. Berbekal sebuah buku “India spiritual Gurus Nineteenth Century”, dia bersama keluarganya terus berusaha mencari guru-guru kerohanian, para yogi, sadhu, serta orang-orang suci di daratan Bharata itu.

Setelah perjalannya keliling India, keluarganya merasa begitu tenang dan selalu merasa  dapat inspirasi dari perjalanan ke India itu. Sampai saat ini, Frau Heike Buetze telah dua belas kali (12) keliling India. Kerena saking senangnya dengan kehidupan orang negeri Bharata, hampir semua pojok rumahnya dipenuhi hiasan dari India. Begitu juga buku-buku tentang India, menjadi bagian tak terpisahkan di perpustakaannya. Ada bukunya Srila Prabhupada, Paramahansa Yoga Nanda, Swami Siwananda, Shri  Aurobindo, dan yang lainnya, juga gambar Dewa-Dewa Hindu.

Terinspirasi oleh orang-orang suci India, keluarganya sangat tekun melakukan yoga setiap hari. Saat penulis berkunjung di rumahnya, semua anggota keluarganya sudah bangun jam 04.00 pagi untuk bermeditasi dan ber-japa. Mereka begitu lancar mengucapkan doa-doa dalam berjapa. Penulis sebagai orang Hindu merasa malu di hadapan mereka. Keterkejutan penulis semakin bertambah saat mereka mengucapkan “Gayatri mantram” di mana disertai terjemahannya dalam bahasa Jerman. Saya sendiri tidak tahu arti Gayatri dalam bahasa Bali walau setiap hari mengucapkannya.

Saat kami duduk bersama setelah bermeditasi, ayah mertua Frau Heike Buetze “Klaus Buetze”, menceritakan tentang perjalanan hidupnya. Pada tahun 1985 dia divonis dokter menderita kanker orak. Namun karena kepercayaannya terhadap  pengaruh positif yoga, apa yang dibilang dokter  ternyata tak terbukti. Berkat yoga dia sembuh dan mendapatkan kebahagiaan rohani. Pemilik hotel Zur Neuklingenberger Hoehe ini tetap merasa fit dan sehat dengan beryoga. Dia pernah berkunjung ke Bali sebanyak  dua kali dan kunjungan terakhirnya pada bulan Januari 2008. “Saya merasa senang bisa ke Bali lagi”, katanya. Keluarganya ini memang begitu tertarik dengan filsafat Timur dengan segala kegiatan spiritualnya. Penulis dibuat terheran-heran tentang pengetahuannya mengenai India di Bali, apalagi koleksi bukunya yang segudang. Saya diberikan beberapa buku tentang Bali masa lalu dan memang sangat menarik. Di antara buku-buku itu yang sering penulis baca adalah Liebe und tod ouf Bali karya Vicky Baum; Die Schoenheit des Selbst karya Swami Prabhupada dan Ratu Pedanda karya Milda Drueke. “Dari membaca buku itu saya bisa mendapat sedikit pengetahuan tentang kehidupan, “ucap Frau Buetze. Ia menambahkan, bahwa dalam mencari kedamaian rohani hendaknya bahasa tak menjadi penghalang untuk mencapai tujuan itu. “Misalkan saja kita ingin mengerti orang Bali secara mendalam, kita harus menguasai bahasa Bali. Begitu juga bila ingin mendapatkan kemantapan dalam yoga , kita harus mengerti bahasa dan mantra dalam yoga,” katanya.

“Bila melakukan yoga hanya sebagai olah raga, maka tentu  lain masalahnya”, tambahnya. Dari hal ini, bisa kita sebenarnya mengerti bahwa bahasa adalah alat komunikasi dalam praktek keagamaan. Dari keluarga Buetze kita bisa belajar tentang toleransi. Walau di rumahnya semua atribut dari India, lagu-lagu rohani dari India, namun mereka tetap orang Jerman dalam artian mereka hidup disiplin. Hal ini  bisa mungkin karena kehidupan berspiritualitas adalah urusan pribadi di negaranya. Boleh atau tidak mempraktekkan yoga atau kegiatan spiritualitas adalah hak pribadi. Sepanjang kegiatan itu tidak mengganggu kestabilan Negara, maka tak pa-apa.

Di Eropa dan Amerika, yoga bukanlah hal yang aneh ataupun diharamkan. Para yogi besar dari berbagai disiplin hampir dikenal semua negeri tersebut, seperti Paramahansa Yogananda dengan Self-realization Fellow-Ship-nya, Srila Prabhupada dengan ISKCON-nya, atau Shri Shri Ravi Shankar dengan The Art of Living-nya dan yang lainnya seperti Osho, Aurobindo, Ramana Maharishi, J. Krishna Murti atau di zaman sekarang Shri Sathya Sai Baba.

Jika para yogi, sadhu itu bisa menolong kehidupan orang demi kedamaian, ketentraman, kesehatan mengapa kita harus masalahkan. Bila dengan peraktek yoga, baik dengan Bhakti Yoga, Karma Yoga, Jnana Yoga atau Raja Yoga, sepanjang membawa kebajikan tentulah merupakan sumbangan yang bermanfaat bagi seluruh manusia.

Begitu pula bahasa komunikasi dalam beryoga hanyalah alat komunikasi. Contohkan saja penulis ingin belajar menjadi orang Hongaria. Saya hanya ingin mengerti kebudayaan dan tradisi lewat bahasanya. Hal yang sama berlaku saat orang bagi orang yang belajar yoga. Mereka pastilah akrab dengan istilah asana, pranayama, brahma muhurta dan istilah-istilah lain dalam yoga.

Ada teman penulis dari Jossqrund dekat Frankfirt bernama Peqqy Schwarzburger, dia senang berjapa. Dia hafal betul doa-doa tentang pujian terhadap Tuhan dan dia merasa adanya getaran rohani saat dia mengucapkan mantra itu. “Ini adalah bhakti yoga,” katanya.

Peqqy Schwarzburger banyak membaca buku-buku dari Swami Siwananda khususnya Japa Yoga dan buku-buku terbitan Bhakti Wedanta Book Trust. Dia mengatakan, sejak melaksanakan Japa Yoga kehidupannya terasa lebih damai dan keharmonisan di antara anggota keluarganya semakin meningkat. Karakter orang Jerman-nya  yang egois semakin terkikis dan berubah menjadi toleran. Apa yang ia cari selama ini dalam hidupnya ditemukan lewat yoga.

Dia bersama keluarga besarnya berangsur-angsur meninggalkan kehidupan yang glamour. Hal itu penulis rasakan saat dia dan keluarganya datang ke Bali. Dulu saat baru pertama kali ke Bali tahun 1993 mereka selalu tinggal di Hotel mewah, namun sekarang mereka lebih memilih di Homestay. Mereka lebih banyak menghabiskan uangnya untuk membantu orang-orang yang papa. Se­sudah mempraktekkan ajaran yoga, mereka lebih menyibukkan diri untuk menolong orang lain. Apalagi ibunya sudah merasakan man­faat yoga itu sendiri. Ibunya dulu mempunyai masalah dengan tidur. Tidurnya tidak bisa nyenyak,dan resah. Namun setelah melakukan yoga, ibunya bisa tidur nyaman dan merasa damai.

Saat mereka datang ke Bali, mereka juga merasa tertarik dengan kegiatan spiritual orang Bali yang Hindu. Dan mereka bilang, “Walaupun di rumah kami semua penuh kesederhanaan kami mendapatkan kepuasan yang selama ini kami cari-cari.” Mereka sangat senang bisa mengikuti acara-acara orang Bali, baik di pura ataupun di pesraman Hindu. Selain itu mereka itu, yaitu Peggy Schwarzburger dan Fander Familie Buetze memilih cara hidup vegetarian.

Nah dari hal tersebut di atas, apakah dalam mencari ketenangan jiwa individu harus diatur juga lewat suatu instansi?

I Wayan Miasa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: