h1

Keterikatan Kita Bersifat Mutlak

26 Oktober 2009

Apakah keterikatan itu? Dalam dunia spiritual, keterikatan dimaksudkan sebagai suatu tindakan mental atau pikiran yang mengembangkan kecenderungan-kecenderungan dalam memikirkan suatu objek atau rasa. Objek bersifat material sementara rasa bersifat abstrak. Jadi, bila suatu gejala, entah itu objek atau rasa bila membuat pikiran menjadi kecanduan untuk menikmatinya, maka itulah disebut keterikatan. Misalnya keterikatan akan kekayaan, keterikatan akan lawan jenis, keterikatan terhadap nikmatnya makanan, atau keterikatan terhadap hubungan keluarga dan berbagai ragam keterikatan model lainnya. Nah, dalam dunia spiritual, semua jenis keterikatan ini dianggap sebagai penghalang bagi sang jiwa yang menjalani proses evolusinya untuk mencapai tingkatan lebih tinggi. Bahwasannya, semua keterikatan duniawi bersifat negative yang nantinya hanya akan memunculkan karmawasana baru atau reaksi karma baru yang menstimuli sang roh menjelma kembali ke dunia, akibat kenangan atau memorinya yang terlanjur menikmati kenikmatan relasi-relasi pikiran dengan objek atau rasa yang pernah dikenalnya selama hidup di dunia.

Sebenarnya keterikatan itu adalah proses evolusi roh itu sendiri. Pertama-tama kita harus menyadari kalau ‘sang rasa’ atau zat yang bisa merasakan, apa pun itu namanya adalah kenyataan yang kekal yang bisa melampaui konsep kematian. Hanya saja, ‘sang rasa’ yang membadan terkadang sensasinya bisa terhalang oleh sifat badan yang materi itu, sehingga ada kalanya kita tak merasa apa-apa saat tidur atau dibius saat sakit. Namun, bila kemudian dihubungkan dengan keadaan sorga atau neraka, bahkan moksa, maka secara sederhana kita pahami kalau ini menunjukkan betapa kekalnya ‘sang rasa’. Karena rasalah yang akan merasakan sorga, rasa yang menikmati neraka atau rasa yang mengecap moksa. Bila tak ada rasa, lalu  mungkinkah kita memiliki identitas pribadi, karena bila rasa mati, maka sesungguhnya tiada identitas apa pun bisa dibangun.

Kemudian, rasa ini bisa eksis bila terikat pada sesuatu. Rasa tak pernah bisa bebas dari keterikatannya. Orang-orang berjuang untuk mendapatkan rasa nyaman dalam hidupnya yang berarti ‘sang rasa’ terikat dengan kenyamanan. Begitu juga ‘sang rasa’ terikat dengan rasa kepuasan, sehingga  rasa itu ada bila ada yang mengikatnya. Lebih-lebih rasa yang membadan, maka otomatis ia menikmati hal-hal atau merasakan hal-hal yang bersifat lebih kasar. Misalnya, keterikatan rasa terhadap hubungan seks, rasa makanan, rasa pendengaran akan suara yang indah, rasa sejuk, dan sejenisnya. Hanya saja rasa yang dimiliki oleh manusia dominan dituntuntun oleh intelektual, sementara binatang rasanya dikendalikan naluri. Misalnya, binatang ingin merasakan hubungan seks bila musim birahi atau musim kawin tiba dan ini bersifat naluri murni, sementara pada manusia, pikirannya bisa menentukan frekuensi hubungan seks ini, bahkan tidak untuk berketurunan, tetapi sekadar untuk kesenangan atau ingin merasakan semata. Ini pekerjaan intelektual atau campur tangan intelektual. Selanjutnya rambu-rambu spiritual menganjurkan agar keterikatan badaniah dan emosional yang bersifat materi dikurangi secara perlahan, bahkan dinihilkan supaya spiritual bisa maju. Apa hubungannya?

Sebenarnya keterikatan roh yang berintikan rasa itu tak akan pernah bebas dari keterikatan, selamanya. Hanya saja, spiritualisme mengajak kita untuk meningkatkan kualitas keterikatan itu, dari yang bersifat kasar menuju yang halus, dari yang sempit menuju yang lebih luas. Masalahnya adalah, bila kita memperkuat kecenderungan keterikatan terhadap sensasi kenikmatan material: harta benda, lawan jenis, jabatan, hubungan keluarga, kesejukan, dan sebagainya, maka roh kita akan semakin sulit melepaskan diri dari pengaruh dunia material, sementara spiritualisme yang memandang roh berevolusi mengharapkan sang jiwa suatu saat dapat meningkatkan dirinya dan hidup di alam baru di alam yang lebih halus. Karena itulah semua agama mengajarkan manusia melatih keterikatan-keterikatan yang lebih halus dan luas dengan maksud supaya sang jiwa bisa terikat di ruang yang lebih luas. Apakah keterikatan yang lebih luas itu?

Bahasa gampangnya adalah belajar terikat kepada Tuhan. Tuhan adalah sesuatu yang amat sukar dipikirkan  atau bisa diartikan keterikatan pada ruang dan kemampuan atau kenikmatan yang tiada berbatas. Nah, pada-Nya-lah sang jiwa dilatih mengikatkan dirinya dan seiring dengan itu model rasa yang dilatih untuk dinikmati adalah hal-hal lebih luas dan halus juga, dengan maksud supaya bisa terikat di ruang maha luas itu. Misalnya, belajar menikmatu hubungan yang universal mengganti ikatan emosional sempit antaranggota keluarga. Belajar menikmati cinta yang lebih luas, kecintaan yang tak terkungkung objek apa pun, tapi mencintai apa pun. Selanjutnya penikmatan ‘sang rasa’ terhadap sensasi panca indra: menikmati makanan, seks, suara, sentuhan dan lainnya perlahan dialihkan untuk belajar menikmati hal-hal yang bersifat mental, ekstase rohani, keheningan, keharuan.

Dengan demikian, keterikatan sang jiwa bersifat mutlak, ia tak mungkin bebas dari keterikatan. Bahkan kita digiring untuk meningkatkan kemampuan supaya bisa lebih terikat kepada hal-hal yang lebih besar untuk memajukan spiritual kita. Terikat kepada Tuhan, karena Ia adalah sesuatu yang bersifat kekal, sehingga keterikatan pada-Nya bersifat kuat, langgeng dan dipenuhi sensasi rasa yang tak berbatas. Maka, untuk mencapai keterikatan yang lebih tinggi, kita harus belajar menikmati keterikatan yang lebih rendah, kemudian meninggalkannya ketika kita siap mengikatkan ‘sang rasa’ pada ikatan yang lebih kuat dan tinggi.

N. Putrawan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: