h1

Tuhan Senantiasa Ada Di Mana-Mana

3 November 2009

Memahami keberadaan dan eksistensi Tuhan, di sini perlu adanya suatu keyakinan untuk mewujudkan bahwaTuhan itu benar-benar ada. Mewujudkan keberadaan Tuhan, manusia tidak cukup mempunyai kepercayaan kepada-Nya tetapi harus mempunyai keyakinan yang tinggi tentang keberadaanNya. Dalam kehidupan sehari-hari bagi masyarakat awam sangat banyak beranggapan, bahwa Tuhan hanya ada ketika adanya suatu piodalan atau upacara agama. Sehingga pada saat itu umat berbondong-bondong ke pura, kuil dan tempat-tempat suci lainnya. Mereka tidak menyadari bahwa secara filosofis Tuhan (Ida Sang Hyang Widhi Wasa ) ada di mana-mana (Wyapi wyapaka nirwikara).

Pemahaman adanya Tuhan di mana-mana bukan berarti menjadikan umat Hindu tidak pergi ke pura untuk melakukan persembahyangan, tetapi perlu adanya pemahaman bahwa tidak hanya di pura ada Tuhan, pun pula tidak hanya di pura kita beragama dan tidak hanya di pura pula kita menjadi abdi dan pelayan Tuhan. Sehingga bagi mereka yang telah memahami keberadaan Tuhan secara esensial, maka mereka mampu mengubah arah pemahaman tentang dunia dan Tuhan itu sendiri. Di mana dunia baginya adalah pura dan sebagai tempat untuk merayakan peradaban, cinta kasih dan kemanusiaan, dan Tuhan dipandang sebagai Yang Maha Ada yang menyelimuti segalanya, ada di mana-mana, ada di dalam dan di luar ciptaan-Nya, menghidupi dan meresapinya.

Mereka yang telah tercerahkan memberikan pandangannya tentang dunia bahwa dunia merupakan pura, wahana untuk menimbun dan mengumpulkan pahala-pahala baik dari perbuatannya dan dunia dipandang sebagai tempat penyucian diri bukan lagi memandang dunia sebagai lahan penderitaan. Namun orang-orang bodoh memandang dunia sebagai lahan penderitaan dan menangisi kelahirannya di dunia serta kehilangan pola pikir dengan memandang bahwa kelahiran ke dunia adalah penuh dosa-dosa. Kekeliruan ini muncul karena tidak memahami bahwa Tuhan telah mengirim dan mempercayai kelahirannya ke dunia untuk mengemban tugas dan kewajibannya dengan baik, dengan berbuat atau bertindak apakah itu berbicara, bertindak ataupun berpikir yang berpahala merupakan bentuk dari penyucian itu sendiri.

Menyadari kelemahan itulah manusia hendaknya mengetahui pengetahuan tentang Tuhan (Brahmavidya) sebagai akar dari peradaban manusia dalam memahami, serta menyadari keberadaan Tuhan itu sendiri. Dengan berpengetahuan akan mampu memahami Tuhan dalam konteks apa pun, baik saat ada dalam pura, kuil ataupun ada dalam kehidupan masyarakat. Mereka yang percaya dan yakin tentang Tuhan ada di mana-mana menjadikan hari-harinya selalu untuk mengingat dan memuja Tuhan di mana saja dan kapan saja dengan bersifat tidak pamer, namun selalu memposisikan Tuhan ada dalam hatinya dengan selalu menyadari dan mengingatnya. Inilah rahasia pemujaan yang paling agung saat ini. Kenapa hal ini penting? karena manusia di zaman sekarang penuh dengan tendensi maya dan dengan cepat berani memberikan tanggapan negatif dari apa yang mereka lihat, dan mereka dengar tanpa mempertimbangkan nilai metafisis yang terkandung di dalamnya. Kesemuannya itu muncul karena kebodohan bukan kecerdasan serta terlahir dari sifat maya dan ilusi.

Ciri kebijaksanaan  manusia yang meyakini Tuhan senantiasa ada di mana-mana, tidak mau memperdebatkan apakah Tuhan itu ada atau tidak melainkan, meyakinkan dirinya bahwa Tuhan memang ada. Ada di dalam diri setiap makhluk dan ada pula di luar makhluk ciptaanNya. Suatu ketika seorang murid bertanya kepada gurunya; Guru jika Tuhan senantiasa ada di mana-mana kenapa saya tidak melihatnya Guru? Kemudian gurunya menjawab, “Engkau tidak bisa melihat Tuhan karena engkau melihatnya dengan mata duniawi, mata yang penuh kekotoran dan kelemahan. Untuk dapat melihat Tuhan engkau harus menggunakan mata batin, mata yang penuh kecemerlangan budhi dan kesucian. Sehingga para guru suci seperti halnya Ramakrisna paramahamsa yang telah berhasil membagkitkan mata batinnya mampu melihat dan menceritakan pengalaman ketuhanannya kepada orang-orang tertentu yang dipercayainya dalam hal ini muridnya Vivekananda. Ini berarti bukan sesuatu yang tidak mungkin, melainkan bisa terjadi pada semua umat manusia jika mereka mampu membangakitkan kesadaran dan membuka mata rohani dalam dirinya.

Peradaban sejarah membuktikan bahwa Tuhan benar-banar ada hal ini terjadi ketika Arjuna memohon kepada Dewata Krishna untuk menampakkan keberadaanNya sebagai yang Maha Kuasa, maka Krishna mengabulkan dengan memberikan penglihatan dewata kepada Arjuna yang dalam keraguan, kebimbangan, dan penuh ilusi duniawi agar dapat melihat wujud keagungan Tuhan, serta Krishna meyakinkan kepada Arjuna bahwa Tuhan benar-benar ada. Demikian pula manusia saat ini harus mencabut kebimbangan dan keraguannya tentang keberadaan Tuhan.

I Wayan Dateng aktif di Indra Udayana Vedanta Community Ashram Gandhi Puri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: