h1

Memahami Keberadaan Eksistensi Tuhan

29 Oktober 2009

Pengetahuan tentang Brahman atau Brahma Vidya di sini memegang peranan yang sangat penting dalam rangka memahami keberadaan dan eksistensi Tuhan (Sang Hyang Widhi). Karena sebagai mana yang kita ketahui, pengetahuan (Jnana) merupakan jalan utama yang dapat digunakan untuk menembus dan mengilhami keagungan dari Tuhan itu sendiri. Di sini manusia diharapkan memiliki pemahaman dan pengertian yang mampu memberikan arti atau makna dari segala tindakan untuk dapat mengingat dan memuja Tuhan.

Tradisi Hindu tentang cara pemujaan Tuhan yang kita kenal dengan Catur Marga akan mempunyai alur dan tujuan yang jelas, jika adanya suatu pemahaman yang mantap. Seperti tindakan bhakti yang kita lakukan, jika hanya dipahami sebagai suatu pengharapan dari suatu tujuan, maka tidak akan dapat memberikan makna dan manfaat yang cukup berarti. Di sini peran cinta kasih dan pelayanan sangatlah penting untuk memberikan pemaknaan terhadap bhakti itu. Dalam Bhagawad Gita, Arjuna adalah Sang pahlawan pembela kebenaran yang mampu memahami bhakti sebagai suatu jalan ilahi serta telah mampu menghancurkan keragu-raguannya dalam bertindak guna mencapai tujuan tertinggi. Maka Beliau bertindak dan menyadari dirinya sebagai pelayan dari kebenaran itu sendiri. Begitu pula diharapkan bagi para Karmin, Jnanin, ataupun Yogin dalam memahami dan menyadari keberadaan Tuhan ini. Keberadaan Tuhan sebagaimana yang disebutkan dalam sloka di atas, merupakan bentuk refleksi dari keabadian (Eternal) yang adanya abadi, tak terbatas oleh ruang dan waktu, tetap tak bergerak dan tak terpengaruh oleh suka, duka, dan segala tindakan lahiriah manusia.

Pemahaman tentang yang abadi, suci tanpa noda dan sifat ini ada dalam alam Nirguna Brahman sebagai kekuasaan Tuhan tertinggi. Di sini Tuhan dipahami dalam keadaan transcendental, yakni meliputi segalanya, tetapi tidak bisa dipahami dengan akal biasa. Sehingga untuk dapat memahami keberadaannya, Tuhan yang abadi mengambil wujud dan sifat (Guna). Dalam hal ini Tuhan menurunkan kualitas spiritualnya dengan wujud Saguna Brahman, yakni telah mendapat pengaruh dari sifat dan maya. Sehingga dalam agama Hindu kita mengenal adanya dewa-dewa sebagai perwujudan dan percikan suci Tuhan. Keberadaan Dewa-dewa menjadi sangat penting untuk dipahami sebagai sinar sucinya Tuhan dan sebagai pelindung alam semesta.

Di Bali kepercayaan tentang pemujaan para dewa menjadi begitu populer dan terlebih lagi pemujaan terhadap para leluhur. Hal ini dapat kita saksikan pada setiap pura di Bali dengan adanya arca-arca para dewa dan beberapa pelinggih sebagai simbol keberadaan Tuhan dengan berbagai macam manifestasinya sebagai Dewa-dewa. Seperti Panca Dewata, Asta Dewata, dan Dewata Nawa Sanga. Semua gelar kemahakuasaan Tuhan ini merupakan wujud dari sinar suci Tuhan dalam fungsinya sebagai pelidung dan pengayom serta memancarkan sinar suci kerahayuan bagi semua ciptaan-Nya.

Dalam sudut pandang Vedanta, Sang Hyang Widhi dalam agama Hindu diyakini ada di mana-mana (Wyapi wyapaka Nirwikara), meresapi segala makhluk dan alam semesta (Sarwan khalvidam Brahman) dan menyelimuti seisi alam semesta ini (Lisvara sarwa Bhutanam). Jika setiap orang memahami dan menyadari keberadaan Tuhan seperti ini, maka tentu tidak ada alasan bagi manusia untuk tidak mempercayai dan menyakini keberadaanNya. Sebagaimana halnya manusia sebagai makhluk Tuhan dibentuk dari unsur panca mahabhuta, sebagaimana pula pembentuk dari alam semesta ini, maka dengan ini apa pun kekuatan Tuhan di alam semesta ini, ada pula dalam diri manusia. Maka di sini pentingnya menyadari, bahwa Tuhan ada di setiap makhluk dalam wujud jiwa-jiwa yang agung. Inilah keberadaan Tuhan yang harus disadari. Jika kesadaran manusia mampu membangkitkan kekuatan ketuhanan dalam dirinya, maka pencerahan dan penyatuan seperti yang dialami oleh Guru-guru suci dan para leluhur kita di Bali pada zaman dahulu akan dapat kita capai. Para Leluhur kita di masa lalu begitu giat untuk dapat meraih kasih illahi Tuhan, seperti Dang hyang Dwi Jendra, Mpu Kuturan, Dang Hyang Astapaka, dan yang lainnya. Sehingga dalam akhir hayatnya Beliau berhasil menikmati dan mereguk pencerahan abadi dengan penyatuan kehadapan Yang Maha Tunggal. Realita konkrit dari para leluhur kita ini mesti dijadikan teladan dan Guru dalam kehidupan dalam rangka meningkatkan kualitas diri, kesucian, kemurnian dan Ketuhanan dalam diri.

Penulis dari Indra Udayana Community Ashram Gandhi Puri

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: